Mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat menjadi isu utama bagi BRICS.
Para anggota telah membahas peningkatan perdagangan dalam mata uang mereka sendiri dan menciptakan sistem pembayaran yang akan mengurangi ketergantungan pada lembaga keuangan Barat.
Gagasan itu mendapat momentum ketika negara seperti Rusia menghadapi sanksi Barat yang luas.
Namun menggantikan dolar akan sulit karena mata uang itu sangat tertanam dalam perdagangan dan keuangan global, sementara anggota BRICS memiliki mata uang, sistem keuangan, dan prioritas ekonomi yang berbeda.
Mahesh Sachdev, diplomat India yang pensiun, mengatakan tujuannya bukan konfrontasi langsung dengan dolar.
Menurut dia, negara-negara ingin mengurangi paparan terhadap sistem keuangan saat ini yang dapat digunakan untuk tekanan politik.
"Ini tantangan, tetapi kita tidak berbicara tentang konfrontasi frontal. Ini bukan situasi biner," katanya.
Keanggotaan BRICS yang bertambah juga memberinya bobot besar, tetapi pengaruhnya pada akhirnya bergantung pada apakah para anggota dapat menyepakati langkah praktis.
Kelompok ini menyerukan perubahan lembaga keuangan global, representasi lebih besar bagi negara berkembang, dan alternatif dari sistem yang didominasi Barat.
Namun para anggotanya sering berbeda pendapat tentang cara mencapai tujuan tersebut.
Sachdev menilai BRICS membutuhkan "sikap yang lebih kohesif dan harmoni yang lebih baik" di antara para anggotanya.
"Jika hanya menjadi ajang bicara berkala dan foto bersama," katanya, "maka relevansinya terkikis."
Donthi mengatakan keberhasilan BRICS dapat diukur dalam langkah-langkah kecil.
Langkah itu termasuk menjaga kelompok yang diperluas tetap bersatu, memperbaiki hubungan dengan China, dan memperdalam kerja sama dagang dan keuangan.
Kelompok ini juga dapat menunjukkan bahwa mereka bisa memberi platform bagi negara berkembang tanpa memaksa mereka memilih antara blok Barat dan non-Barat, katanya.
"BRICS memungkinkan keuntungan geopolitik bertahap, meski bukan kemenangan mutlak," kata Donthi.
