"Semua orang harus menyadari bahwa itu adalah hari yang sangat buruk dan katastrofik bagi banyak keluarga," katanya.
"Mereka bukan pejuang. Mereka adalah orang-orang seperti Anda dan saya yang pergi bekerja."
Di Pentagon, Arlington, Virginia, tempat American Airlines Penerbangan 77 menghantam sisi barat gedung dan menewaskan 184 orang, Presiden Donald Trump menuturkan kisah sebagian penumpang yang tewas.
Di antaranya seorang perempuan yang sedang hamil anak pertama, sebuah keluarga beranggotakan empat orang yang menuju Australia, dan tiga siswa kelas enam yang sedang studi wisata.
Presiden dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang juga berpidato, sama-sama menggunakan kesempatan itu untuk membela perang Iran.
Mereka berpendapat perang itu perlu untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
"Kami memberi hormat kepada petugas pertolongan pertama dan penegak hukum, dan kami mencintai mereka," kata Trump.
"Dan kami memberi hormat kepada anggota militer yang bekerja saat ini untuk memastikan sponsor teror nomor satu dunia, Republik Islam Iran, tidak akan pernah memiliki senjata nuklir."
Pelayat juga berkumpul di Shanksville, Pennsylvania, di lokasi jatuhnya pesawat tempat para penumpang menjatuhkan salah satu dari empat pesawat yang dibajak, United Airlines Penerbangan 93, yang diarahkan ke Washington.
Luka Antargenerasi
Serangan itu membentuk generasi warga Amerika yang hidup pada hari itu atau tumbuh besar setelahnya.
Peristiwa itu memengaruhi kebijakan luar negeri Amerika, politik domestik, dan sikap publik terhadap keamanan.
Namun bagi banyak orang yang terdampak langsung, termasuk keluarga dan sahabat korban, petugas pertolongan pertama, serta pekerja penyelamat, peringatan ini adalah penghormatan bagi nyawa yang hilang pada hari cerah seperempat abad lalu dan patah hati yang menyusul.