Lee merasa paling puas ketika orang berkata, "Saya belum pernah melihat sisi itu darinya," atau "Itu terasa segar."
Ia tidak ingin terus berakting hanya untuk menunjukkan emosi yang sama atau memberi kesan yang sama. Di setiap proyek, ia ingin menambahkan sesuatu yang baru.
Keinginan itu juga menariknya pada jenis drama romantis yang berbeda. Lee berharap suatu hari bisa bekerja dengan sutradara Hur Jin-ho.
Hur dikenal lewat penggambaran cinta yang matang. Lee ingin membuat cerita intens tentang gairah dan kecemburuan bersamanya.
"Saya pernah bertanya kepadanya, dan dia bilang ingin film terakhirnya adalah romansa," kata Lee.
Lee menyampaikan keinginannya membuat drama soal gairah dan kecemburuan dengan sensibilitas Hur. Menurutnya, sutradara itu sangat antusias.
Jenis romansa itu belum pernah ia coba, sehingga akan memberinya banyak hal untuk dipikirkan. Ia penasaran seperti apa film semacam itu di tangan Hur.
Bagi Lee, lokasi syuting "Assassin(s)" bukan sekadar tempat mengerjakan adegan lalu pulang. Ia datang bahkan pada hari-hari ketika tidak dijadwalkan bekerja.
Hal itu sebagian besar terinspirasi rekan mainnya, Park Hae-il. Menurut Lee, Park datang hampir setiap hari syuting, baik punya adegan maupun tidak.
"Melihat itu, bagaimana saya bisa menjauh?" kata Lee.
"Lokasinya terasa nyaman, seperti bersama keluarga."
Saat bertanya-tanya bagaimana proses syuting berjalan, ia akan datang dan menyerap suasananya.
Mengamati Park dari dekat, Lee menemukan aktor yang menggabungkan wibawa dan kepolosan.
"Pada Hae-il, saya melihat orang dewasa yang bergulat dengan pertanyaan sulit dan memikul beban berat, sekaligus anak laki-laki yang masih penasaran tentang banyak hal," kata Lee.