unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Agensi Rumah Tangga, Komedi Hangat soal Cari Kerja dan Gengsi
Hiburan

Agensi Rumah Tangga, Komedi Hangat soal Cari Kerja dan Gengsi

Poster film Agensi Rumah Tangga
Agensi Rumah Tangga, Komedi Hangat soal Cari Kerja dan Gengsi
A A Ukuran Teks16px

Agensi Rumah Tangga adalah tontonan yang nyaman, menghibur, sekaligus menggelitik.

Film ini terasa seperti semangkuk bakso hangat setelah seharian bekerja, menenangkan dan mengembalikan mood.

Di balik komedinya, film adaptasi novel karya Almira Bastari ini membawa persoalan sosial yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Terutama soal sulitnya mencari kerja dan kerasnya perjuangan perempuan untuk menghidupi diri sendiri maupun keluarga.

Komedi yang Tidak Menggurui

Naskah yang ditulis Ayu Anggraini dan Upi Avianto menyajikan berbagai persoalan itu tanpa dramatisasi nelangsa yang berurai air mata.

Sutradara Naya Anindita membawanya terasa ringan lewat karakter, situasi, dan kelucuan yang dekat dengan keseharian.

Kritik terhadap kondisi dunia kerja hingga persoalan gengsi hadir lewat adegan dan dialog, tanpa membuat film terasa seperti sedang memberi ceramah.

Bahkan ketika menyinggung peran lelaki yang seharusnya membantu menghidupi keluarga tetapi malah gengsi bekerja, semuanya tetap dibungkus humor.

Humor yang dibangun cukup beragam, mulai dari kiasan yang akrab bagi generasi milenial hingga istilah yang lahir dari tren media sosial Gen Z.

Sebagian besar sajian komedi terasa natural karena datang dari karakter dan situasi, meski sesekali ada istilah trending yang terasa dipaksakan.

Kehadiran para komika pun berperan penting dalam menyampaikan punch-punch komedi.

Ada Umi Quary, Ardit Erwandha, Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, hingga Kak Kev (Luqman), Mario Caesar dan Niky Putra dari New Pusat Dunia (NPD), serta Vino 'Gubernur Blok M'.

Mereka tidak sekadar membawa persona komedi dari panggung ke layar, tetapi benar-benar melebur dalam cerita.

Dialog, gestur, hingga interaksi antarpemain menjadi sumber gelak tawa yang membuat suasana film tetap riuh.

Enzy Storia dan Chemistry dengan Afgan

Meski berhadapan dengan gerombolan komika, Enzy Storia tak kehilangan pesonanya sebagai Katia, sang tokoh utama.

Katia punya banyak alasan untuk menjadi karakter yang penuh keluhan, tetapi Enzy membawanya dengan cara yang tetap ringan dan menyenangkan.

Ada sisi keras kepalanya, ada idealismenya, tetapi ada pula kerentanan seorang perempuan yang sedang mencari pijakan setelah kehilangan pekerjaan.

Chemistry Enzy dengan Afgan sebagai Kafka juga terasa mengalir, dengan interaksi yang tidak dibuat-buat.

Hubungan Katia dan Kafka bergerak dari sekadar urusan pekerjaan menuju kedekatan personal, tanpa buru-buru dijadikan romansa.

Kekuatan film ini juga terasa dari cara cerita, visual, dan musiknya saling melengkapi.

Upi, Ayu, dan Naya cukup luwes menjaga perpindahan antara persoalan serius dan humor, sehingga film tidak terasa berat.

Penata artistik Jacobus Dimas membuat latar terasa dekat dengan keseharian, sementara pilihan busana dan rias memperkuat karakter para pemain.

Bahkan baju-baju para ART yang gemas dan khas menjadi detail yang membuat dunia agensi ini terasa lebih hidup.

Tone ringan yang dibangun Naya juga terasa konsisten lewat visual dan pilihan musik Hariopati Rinanto.

Satu hal yang terasa kurang kuat adalah keresahan ibunda Katia yang dibawakan Unique Priscilla.

Setelah anaknya terkena PHK, kekhawatiran karakter orang tua ini sebenarnya cukup mudah dipahami.

Ada cara pandang generasi lama yang menganggap karier aman dan masa depan stabil masih lekat dengan pekerjaan tetap seperti PNS.

Sementara Katia justru memilih membangun agensi rumah tangga dari nol.

Sayangnya, alasan di balik kekhawatiran ibunda Katia belum terasa cukup dalam.

Sang ibu memang menganggap pekerjaan sebagai agen ART tidak layak, tetapi film tidak banyak memperlihatkan apa yang membuat pekerjaan itu begitu dikhawatirkan.

Padahal chemistry Katia dan ibunya justru terasa kuat, dengan benturan ibu dan anak yang natural.

Ibu merasa sedang mengarahkan anak menuju masa depan yang aman, sementara Katia ingin membuktikan pilihan hidupnya juga bisa membawa masa depan yang baik.

Bagi sebagian penonton, pilihan Katia menjadi bos para ART mungkin bukan sesuatu yang aneh atau keliru.

Sehingga ekspektasi sang ibu terhadap karier Katia terasa belum punya bobot yang cukup kuat sebagai sumber konflik.

Namun kekurangan itu tidak lantas membuat Agensi Rumah Tangga kehilangan daya tariknya.

Seperti sajian bakso di kala malam sepulang kerja, berbagai jenis bakso dengan segala kondimennya bercampur.

Sederhana tapi memuaskan.

Yang jelas, Agensi Rumah Tangga mengingatkan bahwa kadang-kadang kita memang cuma butuh tontonan yang tidak terlalu rumit untuk membuat hari terasa sedikit lebih ringan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru