Sang ibu memang menganggap pekerjaan sebagai agen ART tidak layak, tetapi film tidak banyak memperlihatkan apa yang membuat pekerjaan itu begitu dikhawatirkan.
Padahal chemistry Katia dan ibunya justru terasa kuat, dengan benturan ibu dan anak yang natural.
Ibu merasa sedang mengarahkan anak menuju masa depan yang aman, sementara Katia ingin membuktikan pilihan hidupnya juga bisa membawa masa depan yang baik.
Bagi sebagian penonton, pilihan Katia menjadi bos para ART mungkin bukan sesuatu yang aneh atau keliru.
Sehingga ekspektasi sang ibu terhadap karier Katia terasa belum punya bobot yang cukup kuat sebagai sumber konflik.
Namun kekurangan itu tidak lantas membuat Agensi Rumah Tangga kehilangan daya tariknya.
Seperti sajian bakso di kala malam sepulang kerja, berbagai jenis bakso dengan segala kondimennya bercampur.
Sederhana tapi memuaskan.
Yang jelas, Agensi Rumah Tangga mengingatkan bahwa kadang-kadang kita memang cuma butuh tontonan yang tidak terlalu rumit untuk membuat hari terasa sedikit lebih ringan.