unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Satu Meja, Hidangan Berbeda: Daya Tarik Kuliner Korea Ada pada Partisipasi
Lifestyle

Satu Meja, Hidangan Berbeda: Daya Tarik Kuliner Korea Ada pada Partisipasi

Aneka hidangan Korea di atas meja makan bersama, termasuk kimchi, sayuran, dan bibimbap
Satu Meja, Hidangan Berbeda: Daya Tarik Kuliner Korea Ada pada Partisipasi
A A Ukuran Teks16px

Pertanyaan yang paling sering diajukan wisatawan tentang kuliner Korea adalah mengapa lauk pendamping dibagi-bagi.

Saat pertama kali masuk restoran Korea, mereka biasanya terkejut karena satu pesanan utama langsung disertai kimchi, sayuran berbumbu, dan acar yang memenuhi meja.

Semua lauk itu tidak diletakkan di piring masing-masing, melainkan di tengah meja dan menjadi milik bersama. Banyak wisatawan melihatnya sebagai bagian dari budaya berbagi Korea.

Namun, ada cerita yang lebih menarik. Yang membedakan kuliner Korea, atau hansik, bukan sekadar kebiasaan berbagi hidangan.

Keistimewaannya adalah orang-orang yang duduk di satu meja bisa menyantap hidangan yang sepenuhnya berbeda.

Beberapa tahun lalu, penulis kolom ini makan bersama seorang jurnalis dari Austria. Sang jurnalis adalah vegetarian, tetapi pertemuan itu justru diatur di restoran barbekyu Korea.

Meski demikian, makan berjalan lancar. Meja dipenuhi nasi, sup, sayuran hijau, dan lauk pendamping.

Sang jurnalis bertanya cara makan ssam, sejenis bungkus selada tradisional, dan apakah ada lauk yang tidak boleh dimasukkan.

Jawabannya tidak ada.

Tak lama kemudian, ia mengambil daun mallow dari sup pasta kedelai fermentasi, meletakkannya di atas daun selada, lalu membungkusnya dan memakannya.

Penulis kolom pun tertawa.

Sang jurnalis bertanya apakah ia melanggar etiket makan.

Tidak ada aturan seperti itu, kata penulis kolom, sambil menjelaskan bahwa orang Korea jarang membuat bungkusan dari sayuran yang diambil dari sup.

Sang jurnalis mengatakan daun mallow yang lembut dan selada yang renyah sangat cocok berpadu, lalu mendesak penulis kolom untuk mencobanya.

Ia makan bungkusan mallow, sementara penulis kolom makan bungkusan daging.

Hari itu penulis kolom menyadari apa yang membuat kuliner Korea menarik. Sajian yang sama di meja yang sama dapat menghasilkan hidangan yang sepenuhnya berbeda bagi setiap orang.

Perbedaan selera tidak pernah berubah menjadi konflik.

Mereka yang suka makanan pedas, yang lebih memilih rasa ringan, pencinta daging, dan pencinta sayuran dapat duduk bersama dengan nyaman.

Dari kejauhan, pengalaman makan seperti itu tergolong tidak biasa.

Di banyak negara, hidangan datang dalam keadaan sudah jadi, dan tujuannya adalah mencicipi persis seperti yang dimaksudkan koki.

Kuliner Korea menyerahkan langkah terakhir kepada penyantap. Mencampur, membungkus, dan menggabungkan membuat tamu menjadi pencipta, bukan sekadar konsumen.

Bibimbap dan Partisipasi Penyantap

Kita hidup di era banjir informasi.

Ponsel pintar dapat menunjukkan pemandangan suatu destinasi dan ulasan makanannya, tetapi mengapa orang masih naik pesawat dan bepergian ke negara yang tidak mereka kenal?

Jawabannya terletak pada pengalaman, bukan informasi.

Cara makan mulai lebih penting daripada apa yang dimakan, dan bagaimana seseorang ambil bagian lebih penting daripada apa yang dilihat.

Itulah yang membuat kuliner Korea layak dinikmati.

Saat pertama kali bertemu hidangan nasi campur bernama bibimbap, sebagian orang bertanya mengapa hidangan itu dibuat dengan hati-hati lalu diaduk menjadi satu.

Mengelola kelas memasak meyakinkan penulis kolom bahwa bibimbap adalah soal mengaduk, bukan soal membuat.

Banyak peserta memilih topping satu per satu atau mengaduk mangkuk dengan lembut seperti sedang menyiapkan salad.

Mengacak susunan rapi itu dalam satu gerakan terasa salah bagi mereka, sehingga penulis kolom sering mengaduk semangkuk bibimbap di depan peserta.

Bibimbap benar-benar bergantung pada tindakan mengaduk, bukan pada bahan-bahannya.

Nasi, sayuran, dan gochujang, pasta cabai merah fermentasi, menjadi satu rasa pada tahap ketika penyantap yang berperan, bukan koki.

Hal serupa berlaku pada samhap, kombinasi makanan yang disantap dalam satu suapan.

Samhap berubah tergantung kombinasinya. Bungkusan ssam terasa sangat berbeda tergantung isinya.

Kita cenderung menganggapnya sebagai hidangan dalam menu, tetapi semuanya lebih berfungsi sebagai prinsip.

Bahan berubah mengikuti musim dan daerah, namun orang tetap menyebutnya bibimbap atau samhap. Identitas kuliner Korea terletak pada cara makannya, bukan pada daftar bahan yang tetap.

Fleksibilitas itu mungkin kualitasnya yang paling modern. Wisatawan saat ini lebih suka mengkurasi pengalaman budaya mereka sendiri daripada meniru rutinitas penduduk lokal secara persis.

Pariwisata bekerja dengan cara yang sama. Wisatawan tidak pergi ke Jeonju, kota di barat daya Korea, hanya untuk makan semangkuk bibimbap lalu pulang.

Mereka datang untuk mengetahui apa yang masuk ke dalam mangkuk dan bagaimana isinya diaduk, untuk cita rasa lokal yang tersimpan dalam satu sajian itu.

Dengan cara yang sama, wisatawan tidak bepergian hanya ke Mokpo demi rasa samhap.

Mereka pergi untuk mencari tahu mengapa bahan-bahan tertentu berakhir di satu meja dan untuk merasakan kehidupan serta cerita di baliknya.

Fermented skate, daging babi kukus, dan kimchi disajikan sebagai samhap.

Yang akhirnya melekat pada orang adalah cerita di sekitar hidangan, bukan hidangannya sendiri. Keunggulan kuliner Korea tidak pernah hanya pada resepnya.

Keunggulannya adalah makanan itu membuat orang ambil bagian dalam sebuah jamuan, bukan sekadar menontonnya. Hidangan dibagi, tetapi setiap orang punya pengalaman sendiri.

Semua duduk di meja yang sama, tetapi tidak ada yang makan hidangan yang sama.

Itu mungkin hal paling tidak biasa yang ditemukan wisatawan pada kuliner Korea hari ini, dan alasan kuliner Korea berdiri sebagai atraksi paling autentik dari Korea.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru