Pertanyaan yang paling sering diajukan wisatawan tentang kuliner Korea adalah mengapa lauk pendamping dibagi-bagi.
Saat pertama kali masuk restoran Korea, mereka biasanya terkejut karena satu pesanan utama langsung disertai kimchi, sayuran berbumbu, dan acar yang memenuhi meja.
Semua lauk itu tidak diletakkan di piring masing-masing, melainkan di tengah meja dan menjadi milik bersama. Banyak wisatawan melihatnya sebagai bagian dari budaya berbagi Korea.
Namun, ada cerita yang lebih menarik. Yang membedakan kuliner Korea, atau hansik, bukan sekadar kebiasaan berbagi hidangan.
Keistimewaannya adalah orang-orang yang duduk di satu meja bisa menyantap hidangan yang sepenuhnya berbeda.
Beberapa tahun lalu, penulis kolom ini makan bersama seorang jurnalis dari Austria. Sang jurnalis adalah vegetarian, tetapi pertemuan itu justru diatur di restoran barbekyu Korea.
Meski demikian, makan berjalan lancar. Meja dipenuhi nasi, sup, sayuran hijau, dan lauk pendamping.
Sang jurnalis bertanya cara makan ssam, sejenis bungkus selada tradisional, dan apakah ada lauk yang tidak boleh dimasukkan.
Jawabannya tidak ada.
Tak lama kemudian, ia mengambil daun mallow dari sup pasta kedelai fermentasi, meletakkannya di atas daun selada, lalu membungkusnya dan memakannya.
Penulis kolom pun tertawa.
Sang jurnalis bertanya apakah ia melanggar etiket makan.
Tidak ada aturan seperti itu, kata penulis kolom, sambil menjelaskan bahwa orang Korea jarang membuat bungkusan dari sayuran yang diambil dari sup.
Sang jurnalis mengatakan daun mallow yang lembut dan selada yang renyah sangat cocok berpadu, lalu mendesak penulis kolom untuk mencobanya.
Ia makan bungkusan mallow, sementara penulis kolom makan bungkusan daging.
Hari itu penulis kolom menyadari apa yang membuat kuliner Korea menarik. Sajian yang sama di meja yang sama dapat menghasilkan hidangan yang sepenuhnya berbeda bagi setiap orang.