Hal serupa berlaku pada samhap, kombinasi makanan yang disantap dalam satu suapan.
Samhap berubah tergantung kombinasinya. Bungkusan ssam terasa sangat berbeda tergantung isinya.
Kita cenderung menganggapnya sebagai hidangan dalam menu, tetapi semuanya lebih berfungsi sebagai prinsip.
Bahan berubah mengikuti musim dan daerah, namun orang tetap menyebutnya bibimbap atau samhap. Identitas kuliner Korea terletak pada cara makannya, bukan pada daftar bahan yang tetap.
Fleksibilitas itu mungkin kualitasnya yang paling modern. Wisatawan saat ini lebih suka mengkurasi pengalaman budaya mereka sendiri daripada meniru rutinitas penduduk lokal secara persis.
Pariwisata bekerja dengan cara yang sama. Wisatawan tidak pergi ke Jeonju, kota di barat daya Korea, hanya untuk makan semangkuk bibimbap lalu pulang.
Mereka datang untuk mengetahui apa yang masuk ke dalam mangkuk dan bagaimana isinya diaduk, untuk cita rasa lokal yang tersimpan dalam satu sajian itu.
Dengan cara yang sama, wisatawan tidak bepergian hanya ke Mokpo demi rasa samhap.
Mereka pergi untuk mencari tahu mengapa bahan-bahan tertentu berakhir di satu meja dan untuk merasakan kehidupan serta cerita di baliknya.
Fermented skate, daging babi kukus, dan kimchi disajikan sebagai samhap.
Yang akhirnya melekat pada orang adalah cerita di sekitar hidangan, bukan hidangannya sendiri. Keunggulan kuliner Korea tidak pernah hanya pada resepnya.
Keunggulannya adalah makanan itu membuat orang ambil bagian dalam sebuah jamuan, bukan sekadar menontonnya. Hidangan dibagi, tetapi setiap orang punya pengalaman sendiri.
Semua duduk di meja yang sama, tetapi tidak ada yang makan hidangan yang sama.
Itu mungkin hal paling tidak biasa yang ditemukan wisatawan pada kuliner Korea hari ini, dan alasan kuliner Korea berdiri sebagai atraksi paling autentik dari Korea.