Enzy Storia dan Chemistry dengan Afgan
Meski berhadapan dengan gerombolan komika, Enzy Storia tak kehilangan pesonanya sebagai Katia, sang tokoh utama.
Katia punya banyak alasan untuk menjadi karakter yang penuh keluhan, tetapi Enzy membawanya dengan cara yang tetap ringan dan menyenangkan.
Ada sisi keras kepalanya, ada idealismenya, tetapi ada pula kerentanan seorang perempuan yang sedang mencari pijakan setelah kehilangan pekerjaan.
Chemistry Enzy dengan Afgan sebagai Kafka juga terasa mengalir, dengan interaksi yang tidak dibuat-buat.
Hubungan Katia dan Kafka bergerak dari sekadar urusan pekerjaan menuju kedekatan personal, tanpa buru-buru dijadikan romansa.
Kekuatan film ini juga terasa dari cara cerita, visual, dan musiknya saling melengkapi.
Upi, Ayu, dan Naya cukup luwes menjaga perpindahan antara persoalan serius dan humor, sehingga film tidak terasa berat.
Penata artistik Jacobus Dimas membuat latar terasa dekat dengan keseharian, sementara pilihan busana dan rias memperkuat karakter para pemain.
Bahkan baju-baju para ART yang gemas dan khas menjadi detail yang membuat dunia agensi ini terasa lebih hidup.
Tone ringan yang dibangun Naya juga terasa konsisten lewat visual dan pilihan musik Hariopati Rinanto.
Satu hal yang terasa kurang kuat adalah keresahan ibunda Katia yang dibawakan Unique Priscilla.
Setelah anaknya terkena PHK, kekhawatiran karakter orang tua ini sebenarnya cukup mudah dipahami.
Ada cara pandang generasi lama yang menganggap karier aman dan masa depan stabil masih lekat dengan pekerjaan tetap seperti PNS.
Sementara Katia justru memilih membangun agensi rumah tangga dari nol.
Sayangnya, alasan di balik kekhawatiran ibunda Katia belum terasa cukup dalam.
