Bencana iklim telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Nepal. Ironinya, Nepal hanya menyumbang 0,01 persen dari total emisi gas rumah kaca global.
Suku Tamang nyaris tidak bisa disebut bertanggung jawab atas krisis ini. Namun mereka termasuk yang paling menderita di garis depan.
Rasuwa, salah satu wilayah yang hancur akibat banjir, menjadi lokasi beberapa proyek pembangkit listrik tenaga air yang melibatkan perusahaan multinasional.
Bagi warga Nepal miskin, kawasan itu dulu dianggap sebagai tempat mencari peluang kerja.
"Di Nepal, ketika satu orang mendapat pekerjaan dan mapan, ada budaya membawa kerabat satu per satu," kata seorang pejabat lokal.
"Itulah sebabnya banyak kasus di mana beberapa anggota keluarga yang sama meninggal dalam banjir ini."
Air bah menyapu sebuah negara miskin dan menghantam yang paling miskin di dalamnya. Apakah pantas terus menutup mata dari ketimpangan iklim semacam ini?
Pertanyaan itu terus menghantui selama lima hari peliputan di Nepal.
Beberapa hari setelah perjalanan berakhir, tim bantuan bencana pertama dari Korea Selatan yang dikirim pemerintah ditarik tanpa menemukan warga Korea yang hilang.
Tim kedua melanjutkan pencarian, tetapi belum ada kabar. Bagaimana dengan adik-adik Tamang?
Apakah mereka sudah ditemukan?
Seiring waktu, laporan tentang korban selamat yang berhasil diselamatkan semakin jarang. Perhatian terhadap penderitaan Nepal juga perlahan mulai memudar.
Jika kemakmuran membuat krisis iklim diabaikan lagi, tragedi akan terus mengalir ke bawah, menghantam mereka yang paling lemah berulang kali.
Tragedi yang disaksikan di Nepal jelas bukan sekadar bencana alam, melainkan bencana yang dibentuk oleh tindakan manusia.
Namun ada kesadaran yang tidak nyaman tentang betapa cepatnya bahkan mereka yang menyaksikannya langsung mulai berpaling.
Setidaknya dalam krisis iklim, mungkin melupakan itu sendiri adalah sebuah dosa.