Seorang peserta mengaku tidak akan mengusulkannya sendiri, meski tidak melarang jika pasangan meminta. Ia mengenal pasangan yang memakai rekening kencan dan menilai ada untungnya.
Dengan anggaran jelas, pengeluaran lebih terkendali. Karena uang berasal dari setoran bersama, rasa bahwa satu pihak terus ditraktir juga berkurang.
Namun ia menilai rekening kencan tetap terasa agak dingin. Tidak banyak temannya yang melakukannya.
Peserta lain mengaku tidak pernah membagi setiap biaya secara persis saat berkencan. Ia membayar saat ingin mentraktir, dan pasangannya melakukan hal sama.
Memecah pengeluaran kencan santai secara rinci dinilai seperti transaksi bisnis. Untuk pengeluaran besar seperti perjalanan, mereka sepakat menyamakan jumlah agar mendekati separuh-separuh.
Satu perjalanan bisa memakan biaya ratusan ribu hingga 1 juta won. Jumlah itu menjadi beban finansial yang perlu diantisipasi.
Peserta lain tidak menyukai pembagian 50-50 untuk semua hal. Menyesuaikan jumlah, bergiliran membayar, atau membuat rekening kencan sejak awal dinilai sama-sama masuk akal.
Rekening kencan bukan semata menghindari pengeluaran untuk pasangan. Menurutnya, itu lebih soal menabung, terutama bagi yang baru masuk dunia kerja.
Jumlah setoran tidak harus identik. Pendapatan dan kondisi keluarga bisa diperhitungkan, lalu disesuaikan dengan rasio sisa uang masing-masing.
Seorang peserta awalnya tidak yakin dengan rekening kencan. Namun temannya telah memakainya bertahun-tahun karena merasa terbebani ketika pasangan yang lebih mapan terus membayar.
Temannya itu yang mengusulkan membuka rekening agar bisa membayar porsinya secara adil.
Pasangannya sempat bertanya apakah itu perlu, tetapi setelah beberapa tahun justru menilai rekening bersama praktis untuk perjalanan dan berbagai kencan.
Seorang peserta bertanya apakah dalam hubungan tetap lelaki yang membayar lebih. Peserta lain menilai ada ekspektasi sosial yang mendasarinya.