Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyampaikan pidato perpisahan yang tegas di Sidang Umum PBB. Ia mendesak para pemimpin dunia untuk merespons tantangan utama saat ini.
Guterres mempertanyakan apakah dunia akan terus menuju fragmentasi atau bekerja sama mengatasi ancaman eksistensial.
Ancaman itu mencakup krisis iklim, kecerdasan buatan yang tak terkendali, dan ketimpangan yang semakin tajam.
Ia menekankan bahwa inti dari berbagai krisis tersebut adalah kekuasaan.
Menurutnya, dunia bergerak tak terbalikkan menuju multipolar, dengan perpindahan kekuasaan luar biasa dari pemerintah ke segelintir korporasi dan individu.
Guterres juga menyoroti peralihan kekuasaan dari manusia ke mesin melalui kecerdasan buatan. Ia meminta para pemimpin menghindari apa yang disebutnya sebagai "the great fracture".
Ia memperingatkan pembagian dunia menjadi dua blok saingan dengan sistem ekonomi, teknologi, dan keamanan yang terpisah. Guterres menolak pemikiran bahwa kekuatan adalah segalanya.
Ia mengingatkan negara-negara adidaya bahwa kekuatan mereka tidak sekuat yang dibayangkan.
Menurutnya, kekuatan militer saja tidak dapat menjamin perdamaian dan tidak ada kekuatan yang mampu menyelesaikan tantangan hari ini sendirian.
Empat Ujian Besar Kekuasaan
Guterres menyatakan masa depan akan ditentukan oleh cara dunia menangani empat ujian besar kekuasaan.
Ujian itu meliputi kekuasaan atas perang dan perdamaian, kekuasaan yang memicu kekacauan iklim, kekuasaan yang dilepaskan oleh kecerdasan buatan, serta kekuasaan yang memusatkan kekayaan dan mendorong ketimpangan.
Perdamaian dan keamanan disebutnya sebagai ujian kekuasaan besar pertama di abad ke-21.
Ia menyerukan para pemimpin memanfaatkan pertemuan sepekan itu untuk menuntut diakhirinya pertempuran di Timur Tengah, Ukraina, Sudan, Myanmar, dan tempat lain.
Guterres juga mendesak kembalinya dialog. Mengenai krisis iklim, ia menyebutnya sebagai ketidakseimbangan kekuasaan antargenerasi yang paling mendalam.