Kedua pemimpin punya insentif menjaga gencatan senjata tetap hidup.
Partai Republik Trump menghadapi tantangan untuk mempertahankan kendali Kongres pada pemilu sela November, sehingga tidak mampu menanggung gangguan ekonomi lebih lanjut.
Sementara itu, Xi tengah menavigasi ekonomi China yang tidak merata. Ekonomi domestiknya tertekan, tetapi ekspor teknologi tingginya tetap kuat.
Tarif dasar AS pernah mencapai 145 persen selama perang dagang tahun lalu, dibalas China dengan tarif 125 persen.
Setelah Trump dan Xi bertemu di Korea Selatan tahun lalu, rata-rata tarif AS turun menjadi sekitar 47 persen, sedangkan China mengenakan rata-rata di kisaran 30-an persen.
Namun pada Februari, Mahkamah Agung AS membatalkan banyak tarif Trump. Akibatnya, pajak atas barang China menjadi lebih bervariasi.
Langkah sementara yang diumumkan Bessent lebih singkat dari yang disiratkan kedua pihak dalam beberapa pekan terakhir.
China mengindikasikan ingin gencatan senjata dagang diperpanjang hingga akhir masa jabatan Trump pada Januari 2029.
Sementara pejabat pemerintahan Trump menyarankan perpanjangan tiga hingga enam bulan sebagai tenggat yang lebih tepat.
Alasannya, China dinilai lambat memenuhi komitmen masa lalu soal ekspor tanah jarang serta impor kedelai dan pesawat AS.
Terobosan besar mungkin tidak terjadi dalam kunjungan pekan ini. Namun kedua pemimpin tampak bertekad menghindari kegagalan total.
Ryan Hass, penasihat kebijakan China senior di pemerintahan mantan Presiden Barack Obama, menilai kedua pihak akan mengelola demi keuntungan kecil dan menghindari konflik.
Hass kini berada di Brookings Institution di Washington.
Iran dan Taiwan jadi ujian
Terobosan soal Iran tampaknya kecil kemungkinannya.
Trump berargumen China, yang jauh lebih bergantung pada minyak Teluk daripada AS, punya banyak insentif menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk mengakhiri konflik.