Namun perang pilihan Trump itu membuat Beijing gelisah.
Pemerintah China mengutuk aksi militer AS dan Israel, dan Xi menyatakan kekhawatiran konflik itu menandai kembalinya apa yang ia sebut sebagai hukum rimba.
China juga terusik oleh operasi militer yang diperintahkan Trump untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Maduro dibawa ke New York City menghadapi tuduhan federal narkoterorisme dan perdagangan narkoba.
Trump sejak itu menekan negara-negara Amerika Latin untuk mengurangi hubungan ekonomi dan politik dengan China.
Ia juga membenarkan dorongan keterlibatan AS di industri minyak Venezuela dengan alasan kekhawatiran atas pengaruh China dan Rusia di negara Amerika Selatan itu.
Jake Werner, direktur Program Asia Timur di Quincy Institute, menilai China sangat gugup menghadapi corak geopolitik imperialis abad ke-19 yang dijalankan Trump.
Namun Beijing melihat hubungan AS-China sebagai faktor penentu, sehingga tidak ingin bertindak yang bisa meledakkan hubungan itu.
Soal Taiwan, China menegaskan bahwa isu itu adalah yang paling sensitif dalam hubungan AS-China.
Beijing menganggap Taiwan sebagai wilayah China dan bersumpah menganeksasi pulau itu dengan kekuatan jika perlu.
AS diwajibkan hukum menyediakan perangkat keras yang cukup bagi Taiwan untuk mencegah serangan bersenjata dari daratan.
China mendesak Washington menghentikan secara permanen penjualan senjata itu, terutama saat Trump dan Xi bertemu di Beijing pada Mei.
Setelah pertemuan itu, Trump menyatakan menahan persetujuan akhir untuk paket senjata senilai 14 miliar dolar AS yang sedang dalam proses.
Ia juga menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai chip negosiasi yang sangat baik dengan China.
Analis menilai presiden AS itu mungkin termotivasi menahan penjualan senjata setidaknya hingga akhir tahun.
Trump, yang memandang pertemuan tatap muka dengan Xi sebagai bagian penting menjaga stabilitas hubungan, ingin Xi menghadiri KTT G20 pada Desember di resornya di Doral, Florida.
Xi di sisi lain ingin Trump hadir dalam KTT APEC pada November di Shenzhen, China.
Hass menilai mempertahankan keadaan saat ini, dengan penjualan senjata yang ditunda, akan dihitung sebagai kemenangan bagi Beijing.