Pemerintah Iran masih menunggu tanggapan resmi Amerika Serikat atas proposal pembukaan kembali Selat Hormuz yang disampaikan melalui mediator Qatar.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Qatar telah meneruskan sejumlah gagasan kepada Teheran dan dijadwalkan kembali membahasnya dengan Washington sebelum jawaban akhir diberikan.
Pembicaraan diplomasi itu berfokus pada syarat pembukaan jalur pelayaran strategis yang diblokade Iran sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.
Sebelumnya, jalur tersebut melayani seperlima pasokan minyak dunia.
Syarat Iran dan Posisi Teheran
Proposal Teheran mensyaratkan gencatan senjata selama tujuh hari di seluruh Timur Tengah, termasuk Lebanon.
Iran juga menuntut pencairan aset sebesar US$ 12 miliar atau setara Rp 214,9 triliun, pencabutan sanksi minyak, serta penghentian blokade laut oleh Amerika Serikat.
Araghchi menegaskan posisi pemerintahannya mengenai persyaratan pelonggaran blokade maritim tersebut di sela-sela Sidang Umum PBB.
"Fokus saat ini semata-mata pada Selat Hormuz, dan pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada pemenuhan sejumlah syarat yang telah kami sampaikan kepada pihak lain," kata Araghchi, menurut media pemerintah Iran.
Diplomat utama Iran itu menambahkan bahwa proses negosiasi beruntun sedang berlangsung melalui perantara diplomatik Qatar.
"Mereka akan kembali mengangkat masalah ini kepada pihak Amerika, setelah itu jawaban akhir AS akan disampaikan kepada kami," kata Araghchi.
Teheran menekankan pentingnya kepatuhan Washington terhadap seluruh poin penawaran yang diajukan.
"Persyaratan kami jelas, dan setiap langkah menuju pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada terpenuhinya persyaratan tersebut," kata Araghchi.
Araghchi juga menyatakan pihak mediator belum menyampaikan kepastian sikap dari Amerika Serikat.
"Kami menunggu mediator menyampaikan pandangan definitif kepada kami, dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan pandangan tersebut," kata Araghchi.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan media Axios dan CNN yang menyebut dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi dan mencairkan aset Iran.
"Ini tidak benar.
Saya tidak menawarkan apa pun kepada mereka," kata Trump melalui akun Truth Social miliknya pada Senin, 28 September 2026.
Trump menolak usulan terbaru Iran dan menilai Teheran terlalu percaya diri dengan posisi tawar mereka dalam perundingan tersebut.
"Axios baru saja merilis berita bahwa Trump menawarkan keringanan sanksi dan pencairan dana yang dibekukan kepada Iran. Ini tidak benar.
Saya TIDAK MENAWARKAN APA PUN kepada mereka!" kata Trump.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kesiapan negaranya menghadapi tekanan internasional dalam wawancara terpisah.
"Iran tidak mencari perang, tetapi akan membela diri dari tekanan, ancaman, dan serangan," kata Pezeshkian kepada CBS.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan dampak keamanan terhadap infrastruktur energi di seluruh kawasan Teluk jika tuntutan Iran diabaikan.
"Di kawasan di mana kami tidak dapat menjual minyak, tidak seorang pun akan dapat menjual minyak; atau jika keamanan kami tidak dijamin, tidak ada infrastruktur yang akan tetap aman," kata Ghalibaf, menurut televisi pemerintah Iran.
Akibat ketidakpastian negosiasi ini, harga minyak Brent naik 1,4 persen menjadi 106,77 dolar AS per barel.
West Texas Intermediate juga naik 1,5 persen menjadi 93,94 dolar AS per barel pada Selasa, 29 September 2026.
