unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Rupiah Sentuh Rp 18.000 per Dollar AS, Ini Pemicu dan Proyeksi Jangka Pendeknya
News

Rupiah Sentuh Rp 18.000 per Dollar AS, Ini Pemicu dan Proyeksi Jangka Pendeknya

Rupiah Sentuh Rp 18.000 per Dollar AS, Ini Pemicu dan Proyeksi Jangka Pendeknya
Rupiah Sentuh Rp 18.000 per Dollar AS, Ini Pemicu dan Proyeksi Jangka Pendeknya
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat kembali menyentuh level Rp 18.000 per dollar AS pada perdagangan Selasa, 29 September 2026.

Pelemahan mata uang Garuda itu dipicu deretan faktor eksternal, menurut analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong.

Lukman menjelaskan, penguatan dollar AS terjadi di tengah kondisi pasar global yang menekan rupiah.

"Pelemahan rupiah umumnya masih oleh faktor eksternal, dollar AS yang kuat, yield Treasury AS yang tinggi, serta kenaikan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan kebutuhan dollar," kata Lukman Leong.

Dari dalam negeri, tekanan bertambah akibat arus keluar dana asing di pasar modal dan pasar obligasi.

Permintaan valuta asing dari importir juga tercatat meningkat, terutama untuk memenuhi pasokan energi saat harga minyak melonjak.

"Serta meningkatnya permintaan dollar dari importir, terutama untuk kebutuhan energi ketika harga minyak tinggi," ujar Lukman Leong.

Di tengah tekanan itu, Bank Indonesia mengurangi porsi intervensi di pasar spot menjadi sekitar 30 persen dari total intervensi penjagaan stabilitas rupiah.

Langkah ini diambil karena instrumen pasar spot dinilai relatif mahal dan berisiko menggerus cadangan devisa negara.

"Namun, hal ini bukan penyebab utama pelemahan rupiah," kata Lukman Leong.

Pengurangan intervensi spot dinilai membuat tekanan rupiah terasa lebih besar dalam jangka pendek.

Meski demikian, penggunaan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF) dianggap lebih efisien oleh Bank Indonesia.

"BI kemungkinan akan tetap melakukan stabilisasi melalui kombinasi spot, DNDF dan NDF, terutama untuk mencegah pelemahan yang terlalu cepat dan menjaga volatilitas rupiah," kata Lukman Leong.

Intervensi BI dipandang belum cukup untuk membalikkan tren pelemahan secara berkelanjutan.

Diperlukan dukungan aliran modal asing yang masuk kembali, stabilisasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), serta perbaikan kondisi yield global.

"Jika dollar AS, yield AS dan harga minyak tetap tinggi, rupiah berisiko bertahan di atas 18.000 dan sebaliknya," kata Lukman Leong.

Untuk jangka pendek, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada rentang Rp 17.800 hingga Rp 18.200 per dollar AS.

Angka Rp 18.000 disebut sebagai level psikologis kunci.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru