unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Ekshumasi Sutrimo: Jantung Iskemik, Tanpa Kekerasan atau Racun
News

Ekshumasi Sutrimo: Jantung Iskemik, Tanpa Kekerasan atau Racun

Ilustrasi pemeriksaan forensik oleh tim dokter
Ekshumasi Sutrimo: Jantung Iskemik, Tanpa Kekerasan atau Racun
A A Ukuran Teks16px

Tim kedokteran forensik menyimpulkan Sutrimo meninggal dunia akibat serangan jantung iskemik. Kesimpulan itu diambil setelah proses ekshumasi dan autopsi yang dilakukan di Polda Metro Jaya, Jakarta.

Sutrimo dikenal sebagai pria yang lama bekerja bersama mantan Jampidsus Febrie Adriansyah. Hasil pemeriksaan memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Tidak Ada Luka atau Patah Tulang

Ketua Tim Ekshumasi dan Autopsi Sutrimo, dr Ahmad Yudianto, menyampaikan temuan tersebut dalam konferensi pers. Menurutnya, tidak ditemukan luka maupun jejak akibat kekerasan tajam dan tumpul.

Pemeriksaan juga tidak menemukan adanya patah tulang yang berkaitan dengan kekerasan.

Uji toksikologi pada organ serta sampel tanah makam tidak menunjukkan bahan berbahaya seperti pestisida, alkohol, arsen, atau sianida.

Meski begitu, pemeriksaan laboratorium mencatat keberadaan zat kafein dalam jaringan tubuh almarhum. Dokter juga mengidentifikasi perubahan patologis pada sistem pembuluh darah dan jantung yang menyumbat aliran oksigen.

Penyempitan Arteri Koroner

Kondisi penyakit jantung iskemik yang dialami almarhum dipicu oleh penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri koroner. Temuan klinis ini memperkuat kesimpulan akhir tim medis mengenai penyebab kematian.

Ahmad Yudianto menegaskan, berdasarkan temuan serta fakta dalam pemeriksaan ekshumasi dan autopsi, almarhum meninggal karena serangan jantung iskemik.

Terkait kondisi fisik saat ditemukan, tim forensik menjelaskan gumpalan busa putih yang muncul dari area mulut dan hidung jenazah.

Kondisi itu dipicu akumulasi cairan dan lendir pada paru-paru akibat penyumbatan saluran pernapasan.

Busa tersebut diakibatkan edema paru akut yang bisa disebabkan adanya cairan pada paru-paru dan lendir.

Karena saluran napas tidak lancar, cairan itu seperti dikocok sehingga keluar busa berwarna putih.

Proses ekshumasi jenazah Sutrimo sebelumnya dilaksanakan Polda Metro Jaya bersama tim dokter forensik di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas.

Proses itu berlangsung selama 3,5 jam dari pukul 09.30 hingga 13.00 WIB.

Petugas juga melakukan swab pada jasad korban setelah almarhum ditemukan tidak sadarkan diri dan dinyatakan meninggal dunia saat tiba di RS Muhammadiyah Taman Puring.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru