Bank Indonesia mengandalkan bauran intervensi yang efisien untuk mengawal stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal global.
Langkah ini disertai penyesuaian porsi intervensi tunai di pasar spot menjadi kisaran 30 persen.
Penguatan rupiah tercatat di pasar spot sebesar 0,48 persen ke level Rp 17.894 per dolar AS.
Sementara kurs referensi JISDOR BI menguat 0,67 persen menuju Rp 17.877 per dolar AS.
Bauran Intervensi dan Efisiensi Cadangan Devisa
Penyesuaian porsi intervensi tunai di pasar spot menjadi kisaran 30 persen menjadi langkah penyediaan fungsi stabilisasi yang lebih berlapis.
Instrumen yang digunakan mencakup pasar tunai, NDF, serta DNDF.
Langkah ini diambil karena penjualan dolar di pasar spot membutuhkan biaya lebih tinggi yang menggerus cadangan devisa secara langsung.
Hal itu dibandingkan dengan pemanfaatan instrumen derivatif.
"Tetapi apabila tekanan eksternal berlangsung lama, instrumen derivatif tidak dapat menggantikan perbaikan fundamental neraca pembayaran," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank.
Keberhasilan bauran instrumen ini menekan risiko kurs sehingga imbal hasil SUN 10 tahun sebesar 7,22 persen per 29 September menjadi menarik bagi investor asing.
Inflow bersih ke SBN mencapai Rp 27,5 triliun hingga 28 September 2026.
Di sisi lain, instrumen SRBI menyusut dari Rp 1.097 triliun pada Juli menjadi Rp 1.028 triliun per 28 September 2026.
Penyusutan ini seiring langkah penurunan jumlah SRBI secara bertahap oleh BI.
Pasar saham domestik masih menghadapi tantangan dengan catatan net sell asing sebesar Rp 62,1 triliun sepanjang 2026 hingga 28 September.
Kondisi itu akibat pergeseran minat investor ke instrumen berpendapatan tetap.
"Intinya, perubahan strategi BI justru membuat stabilisasi rupiah menjadi lebih hemat cadangan devisa dan lebih beragam instrumennya," ujar Josua Pardede.
Untuk akhir tahun 2026, pergerakan rupiah diproyeksikan berada pada kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Rentang imbal hasil SUN 10 tahun sekitar 7,15 persen hingga 7,35 persen.
