Pemerintah menargetkan Koperasi Desa dan Kelurahan (Kopdes) Merah Putih sebagai sarana utama distribusi logistik pangan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi di tingkat desa.
Keberadaan koperasi di setiap wilayah pedesaan diproyeksikan menjadi simpul penyaluran program subsidi agar lebih tepat sasaran.
Program yang dimaksud meliputi beras, pupuk bersubsidi, Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga LPG 3 kg.
Infrastruktur Baru untuk Intervensi Pasar
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai pembenahan jaringan koperasi menjadi fondasi penting bagi intervensi pasar dan pemenuhan kebutuhan masyarakat desa.
Ia menyebut pemerintah sebelumnya tidak memiliki infrastruktur untuk menyalurkan bantuan secara langsung ke desa.
"Dulu pemerintah itu tidak punya infrastruktur. Sekarang kalau Kopdes Merah Putih berhasil, pemerintah punya infrastruktur," kata Zulkifli Hasan.
Menurutnya, keberadaan koperasi di tiap desa memberi tempat tetap untuk mengirim beras maupun menyalurkan pupuk bersubsidi.
Ia menambahkan, operasi pasar juga dapat dilakukan dengan menyalurkan pasokan langsung ke koperasi desa.
Zulkifli berharap Kopdes Merah Putih menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang membangkitkan aktivitas perdagangan lokal secara berkelanjutan.
Dukungan Perdagangan dan Potensi Ekspor
Kementerian Perdagangan menyiapkan dukungan penyerapan hasil produksi masyarakat desa agar komoditas UMKM dan petani tersalurkan ke pasar yang tepat.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut koperasi berperan sebagai rantai distribusi sekaligus pasar bagi produk UMKM dan petani.
Ia menjelaskan ada pola kemitraan dengan sejumlah saluran distribusi yang dapat dijalankan melalui koperasi.
Pemanfaatan teknologi digital juga didorong agar unit usaha desa mampu menjangkau konsumen lebih luas secara mandiri.
"Kita bisa mengajarkan bagaimana cara jualan online. Kita sudah banyak kerja sama dengan aplikasi-aplikasi penjualan online," kata Budi Santoso.
Selain pasar domestik, komoditas unggulan desa yang surplus diarahkan menyasar pasar internasional.
Budi mencontohkan pelepasan ekspor cokelat ke Prancis dari Jembrana, Bali, sebagai bukti koperasi dapat menjadi eksportir.
Untuk membuka akses pasar luar negeri, pemerintah memanfaatkan perwakilan dagang, atase perdagangan, dan ITPC di 33 negara dengan jumlah 46 kantor.
Penetrasi pasar global itu diprioritaskan menangani kelebihan pasokan komoditas lokal tanpa mengesampingkan konsumsi dalam negeri.
Dengan skema ini, pemerintah memperkuat Kopdes Merah Putih sebagai infrastruktur distribusi pangan sekaligus mendorong potensi ekspor produk desa.
