Ketegangan militer di Timur Tengah kembali mengguncang pasar minyak mentah dunia pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Serangan terhadap kapal dan fasilitas energi memicu kekhawatiran gangguan pasokan yang lebih luas.
Harga Brent tercatat naik menjadi US$109,64 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$98,58 per barel.
Brent bertambah 85 sen atau 0,78 persen, sedangkan WTI meningkat 76 sen atau 0,78 persen.
Pergerakan itu berlangsung di tengah ancaman terhadap jalur pengiriman minyak dan ketidakpastian perkembangan konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Risiko Pengiriman dan Serangan Kapal Tanker
Perusahaan pelacak kapal Kpler mencatat sedikitnya 18 serangan terhadap kapal dalam dua pekan terakhir.
Analisis LSEG menunjukkan serangan terhadap kapal tanker telah meluas hingga ke selatan Teluk Oman.
Perluasan itu berpotensi mengganggu pemuatan minyak di luar kawasan Teluk Arab dan pemindahan minyak antarkapal.
Salah satu insiden terbaru melibatkan kapal supertanker yang terbakar setelah menabrak ranjau laut di selatan Selat Hormuz.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan kapal tersebut melanggar aturan, meski insiden itu belum dapat diverifikasi secara independen.
Korps Garda Revolusi Islam Iran juga menyebut dua kapal tanker yang tidak patuh terbakar setelah menabrak ranjau laut yang dipasang unit angkatan lautnya.
Kelompok Houthi Yaman pada Senin, 19 Oktober, mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta bandara Riyadh dan Abha.
Perkembangan ini menambah risiko terhadap infrastruktur energi Arab Saudi di tengah gangguan pelayaran regional.
Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai pergerakan harga kontrak WTI terdekat mencerminkan ketatnya pasokan minyak mentah global menjelang berakhirnya masa kontrak November pada Selasa.
Menurutnya, kondisi itu mencerminkan penurunan volume ekspor dari Timur Tengah seiring meningkatnya serangan terhadap kapal tanker dan serangan Houthi terhadap infrastruktur minyak Saudi.
Ia juga menyebut keputusan AS mengecualikan armada bayangan Rusia dari sanksi akan mendorong tarif pengiriman lebih rendah.
Faktor tersebut dinilai menjadi penghambat peningkatan permintaan minyak mentah yang bersumber dari AS.
Di tengah risiko tersebut, harapan kemajuan diplomasi AS-Iran sempat menekan harga minyak pada perdagangan Selasa, 20 Oktober.
Brent ditutup turun 0,4 persen menjadi US$109,11 per barel, sedangkan kontrak WTI Desember melemah 0,3 persen menjadi US$98,21 per barel.
Kontrak WTI November turun 1,8 persen menjadi US$101,79 per barel setelah sempat menyentuh US$110,48.
Kontrak WTI Desember turun 26 sen menjadi US$98,28 per barel, sementara harga minyak pengiriman Desember turun 0,7 persen menjadi US$108,79 per barel setelah sempat mencapai US$111,99.
Upaya mediasi antara Washington dan Teheran melibatkan Qatar dan Pakistan.
Usulan yang belum dikonfirmasi mencakup penyediaan akses terhadap sekitar US$6 miliar aset Iran yang dibekukan di bank-bank Qatar serta kemungkinan kunjungan rahasia Badan Tenaga Atom Internasional ke fasilitas nuklir Iran.
Namun, seorang diplomat yang terlibat dalam perundingan membantah bahwa kesepakatan sudah dekat, meskipun pembicaraan masih berlangsung.
Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dikabarkan mengunjungi Teheran pada Selasa dan bertemu Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan Teheran belum menerima tanggapan dari Arab Saudi maupun Houthi terkait tawaran Iran untuk membantu memediasi perundingan perdamaian.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei memperingatkan Iran akan membalas setiap serangan AS dengan kekuatan setara atau lebih besar.
Dari sisi pasokan, dua pejabat Departemen Energi AS menyatakan pemerintah bekerja sama dengan kilang minyak di berbagai negara untuk meningkatkan produksi bahan bakar.
Langkah itu menyusul kekurangan diesel yang mendorong kenaikan harga.
Jajak pendapat Reuters terhadap delapan analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS turun rata-rata sekitar 800 ribu barel pada pekan yang berakhir 16 Oktober.
Perkiraan itu disertai penurunan persediaan produk minyak.
Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya mengindikasikan arus minyak mentah dari kawasan Teluk telah pulih hingga sekitar 80 persen dari tingkat sebelum perang.
Namun, catatan analis ANZ menyebut data awal menunjukkan perlambatan kembali arus pengiriman akibat meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.
