Berikut teks khutbah Jumat 6 November 2026 tentang bahaya kezaliman dan kewajiban menyelesaikan hak sesama, disusun sebagai bahan bacaan bagi khatib maupun jemaah.
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِهِ وَجَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّمًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan mengharamkannya pula di antara hamba-hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, dan sahabat beliau.
Mengawali khutbah ini, saya mengajak diri saya pribadi dan seluruh jemaah untuk meningkatkan takwa kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga soal bagaimana kita memperlakukan sesama manusia.
Hak Sesama Tidak Gugur Hanya dengan Tobat
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Ada satu jenis dosa yang cara menyelesaikannya berbeda dari dosa-dosa lain. Syekh Zainuddin al-Malaibari dalam Irsyadul Ibad (hlm. 80), mengutip Anas bin Malik, menjelaskan tiga tingkatan kezaliman.
Tingkatan pertama adalah syirik, kezaliman terbesar yang tidak diampuni apabila pelakunya tidak bertobat. Tingkatan kedua adalah dosa seorang hamba terhadap Allah; selama ia bertobat dengan tulus, ampunan Allah terbuka baginya. Tingkatan ketiga adalah kezaliman kepada sesama manusia — dan inilah yang tidak selesai hanya dengan istighfar. Selama hak orang lain belum dikembalikan dan kerelaannya belum didapat, urusannya belum selesai.
Allah Swt. mengingatkan dalam QS Ibrahim ayat 42:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
Artinya: "Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang dikerjakan oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak."
Penangguhan balasan di dunia bukanlah pembiaran. Ia adalah penundaan hingga hari perhitungan yang pasti datang.
Wajah-Wajah Kezaliman di Sekitar Kita
Dalam kitab al-Kabair dijelaskan, kezaliman kepada sesama manusia tampil dalam beberapa bentuk: mengambil harta orang lain tanpa hak, menyakiti sesama secara fisik, dan merusak kehormatan orang lain.
Tiga hal ini sangat dekat dengan keseharian kita. Harta bisa berupa utang yang enggan dibayar, upah yang ditahan, atau tanah yang digeser batasnya. Fisik bisa berupa pukulan dan kekerasan. Kehormatan bisa rusak oleh fitnah, ejekan, dan aib yang disebarluaskan. Semuanya tercatat, sekecil apa pun, sebagaimana firman Allah dalam QS Az-Zalzalah ayat 7–8:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Artinya: "Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Peradilan Akhirat: Tidak Ada Dinar dan Dirham
Jemaah rahimakumullah,
Di akhirat kelak, sebelum penghuni surga memasuki surga dan penghuni neraka memasuki neraka, hak-hak antarsesama akan diselesaikan terlebih dahulu. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad digambarkan, di sana tidak berlaku dinar dan dirham; yang menjadi alat penyelesaian hanyalah pahala dan dosa.
Itulah yang dijelaskan pula dalam hadis riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah tentang orang yang bangkrut (muflis): ia datang dengan pahala ibadah yang banyak, tetapi pahala itu berpindah kepada orang-orang yang pernah ia zalimi — yang ia caci, ia tuduh, ia ambil hartanya, ia sakiti badannya. Jika pahalanya habis, dosa para korban ditimpakan kepadanya.
Bahkan mengambil tanah orang lain sejengkal saja, menurut hadis riwayat Imam Ahmad, akan dikalungkan tujuh lapis bumi pada Hari Kiamat. Dan dalam sebuah hadis digambarkan, pada hari itu hak-hak benar-benar ditunaikan, sampai-sampai kambing yang tidak bertanduk pun menuntut haknya kepada kambing yang bertanduk.
Belum lagi doa orang yang dizalimi. Sebuah hadis memperingatkan agar kita takut terhadap doa orang terzalimi, sebab tidak ada penghalang antara doa tersebut dan Allah, dan orang yang terzalimi termasuk golongan yang doanya dikabulkan.
Langkah Kita Hari Ini
Karena itu, jemaah sekalian, selagi penyelesaiannya masih bisa dilakukan dengan harta dan kata maaf, jangan tunda: hentikan kezaliman, bertobatlah kepada Allah, kembalikan hak yang masih tertahan, dan mintalah kerelaan orang yang pernah kita sakiti. Di dunia, persoalan selesai dengan pengembalian dan permintaan maaf. Di akhirat, persoalan selesai dengan pahala kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Sekali lagi, marilah bertakwa kepada Allah dengan takwa yang menjaga lisan, tangan, dan hati kita dari menyakiti sesama. Allah berfirman dalam QS An-Nahl ayat 128: "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan."
Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, dan kita diperintahkan untuk bershalawat pula, sebagaimana QS Al-Ahzab ayat 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa.
Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat serta mukminin dan mukminat. Ya Allah, kami mengakui kelemahan kami sebagaimana doa dalam QS Al-A'raf ayat 23: "Rabbana zhalamna anfusana wa illam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin" — Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri; jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS Al-Baqarah ayat 201)
Penutup khutbah ini adalah firman Allah dalam QS An-Nahl ayat 90:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."
Fadzkurullaha al-'adhim yadzkurkum, wasykuruhu 'ala ni'amihi yazidkum, waladzikrullahi akbar, wallahu ya'lamu ma tashna'un.
