Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel memperingatkan akan terjadi "pertumpahan darah" dengan konsekuensi yang tidak terhitung jika Amerika Serikat melancarkan serangan militer.
Pernyataan ini disampaikan pada Senin, 18 Mei 2026, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
>>> Kapal Pesiar Terjangkit Hantavirus Sandar di Belanda untuk Disinfeksi
Peringatan tersebut muncul sehari setelah laporan Axios yang mengutip pejabat intelijen AS menyebutkan bahwa Kuba telah memperoleh lebih dari 300 drone militer dari Rusia dan Iran.
Havana disebut sedang mempertimbangkan penggunaan drone tersebut untuk menyerang target-target AS.
Dalam cuitannya di X, Diaz-Canel menegaskan bahwa Kuba "tidak mengancam" AS atau negara lain mana pun. Ia juga menekankan hak Kuba untuk mempertahankan diri dari serangan militer.
"Jika seseorang mencoba menginvasi Kuba, Kuba akan melawan, tidak diragukan lagi," kata Duta Besar Kuba untuk PBB, Ernesto Soberon Guzman, kepada AFP di New York.
Ia mengingatkan bahwa AS pernah gagal menginvasi Kuba pada tahun 1960-an.
Sanksi Baru dari Washington
Pada hari yang sama, Washington meningkatkan tekanan dengan mengumumkan sanksi terhadap badan intelijen Kuba dan sembilan warga negara Kuba.
Mereka yang terkena sanksi termasuk menteri komunikasi, energi, dan kehakiman.
Beberapa pejabat tinggi Partai Komunis dan setidaknya tiga jenderal juga masuk dalam daftar sanksi, menurut pernyataan dari Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS.
Sejak Januari, AS terus menekan Kuba.
Presiden Donald Trump bahkan sempat berbicara tentang kemungkinan menggulingkan kepemimpinan Kuba, seperti yang dilakukan AS di Venezuela pada bulan yang sama.
Washington memotong salah satu jalur ekonomi terakhir Kuba dengan menghentikan pengiriman minyak dari Venezuela, pemasok bahan bakar utama Kuba.
>>> Putin Kunjungi China Perkuat Hubungan, Xi Jaga Stabilitas dengan AS
