unique visitors counter
⌂ Beranda News Pemimpin Tertinggi Iran Perintahkan Uranium Diperkaya Tidak Boleh Dikirim ke Luar Negeri

Pemimpin Tertinggi Iran Perintahkan Uranium Diperkaya Tidak Boleh Dikirim ke Luar Negeri

Pemimpin Tertinggi Iran Perintahkan Uranium Diperkaya Tidak Boleh Dikirim ke Luar Negeri
Fasilitas pengayaan uranium Iran
A A Ukuran Teks16px

Namun, posisi itu berubah setelah ancaman berulang dari Trump untuk menyerang Iran.

Pejabat Israel mengatakan kepada Reuters masih belum jelas apakah Trump akan memutuskan untuk menyerang dan apakah ia akan memberi lampu hijau kepada Israel untuk melanjutkan operasi.

Teheran telah bersumpah akan memberikan respons yang menghancurkan jika diserang.

IN2

Meski demikian, sumber mengatakan ada "formula yang layak" untuk menyelesaikan masalah ini.

"Ada solusi seperti mengencerkan stok di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA)," kata salah satu sumber Iran.

IAEA memperkirakan Iran memiliki 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen ketika Israel dan AS menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.

in2

Berapa banyak yang selamat tidak jelas.

Kepala IAEA Rafael Grossi mengatakan pada Maret bahwa sisa stok tersebut "terutama" disimpan di kompleks terowongan di fasilitas nuklir Isfahan.

Badan tersebut meyakini sedikit lebih dari 200 kilogram ada di sana. IAEA juga meyakini sebagian berada di kompleks nuklir Natanz, tempat Iran memiliki dua pabrik pengayaan.

Iran mengatakan sebagian uranium yang diperkaya tinggi diperlukan untuk tujuan medis dan untuk reaktor riset di Teheran yang menggunakan uranium yang diperkaya hingga sekitar 20 persen dalam jumlah relatif kecil.

Kedua sumber mengatakan ada kecurigaan mendalam di Iran bahwa jeda permusuhan adalah taktik penipuan Washington untuk menciptakan rasa aman sebelum melanjutkan serangan udara.

>>> Pakistan Gencarkan Diplomasi untuk Percepat Perdamaian AS-Iran

Negosiator perdamaian utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan pada Rabu bahwa "gerakan jelas dan tersembunyi dari musuh" menunjukkan Amerika sedang mempersiapkan serangan baru.

E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
📰 Update Terbaru