Shenzhen, yang selama ini dikenal sebagai Silicon Valley-nya China, kini bertransformasi menjadi destinasi kuliner terbaru di Asia.
Kota yang dulu identik dengan barang palsu dan elektronik kini menawarkan pengalaman fine dining kelas dunia.
>>> Pembelian Jet Tempur China-Pakistan oleh Bangladesh Bikin India Khawatir
Transformasi ini didorong oleh populasi yang kaya dan muda, serta ledakan restoran kontemporer kelas atas dalam satu dekade terakhir.
Mulai dari gastronomi modern China hingga fine dining ala Barat, semuanya tersedia di kota ini.
Dari Zona Ekonomi Khusus ke Pusat Kuliner
Perubahan ini berakar sejak Shenzhen ditetapkan sebagai zona ekonomi khusus pada tahun 1980. Kota ini mengalami peningkatan kesempatan kerja yang eksponensial dalam semalam.
Pekerja migran berdatangan dari seluruh China, dan perlahan-lahan perkembangan ekonomi melahirkan kelas menengah dengan pendapatan yang bisa dibelanjakan.
Namun, lanskap fine dining tidak langsung berkembang pesat.
Menurut Tata Dai, konsultan fine dining di China, sebelum pandemi, fine dining terbatas pada beberapa restoran Kanton, Chiu Chow, dan hotel bintang lima.
Ditambah sedikit pilihan Jepang dan Barat.
Bukan berarti Shenzhen tidak memiliki restoran inovatif sebelum pandemi. Pelopor seperti Ensue, yang mengusung etos farm-to-table ala California, menjadi tolok ukur fine dining lokal.
“Saat Ensue buka pada 2019, itu adalah salah satu restoran fine dining terbaik tidak hanya di Shenzhen, tetapi di seluruh Asia,” kata Yang Guang, wakil ketua 50 Best Academy untuk China daratan.
Banyak koki dan manajer restoran saat ini memulai karier mereka dari Ensue.
Pandemi sebagai Katalis Perubahan
Pandemi Covid-19 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri kuliner Shenzhen. Meskipun restoran sempat tutup sementara, pembatasan perjalanan internasional memicu minat baru pada pengalaman bersantap lokal.
