Badan PBB itu telah menyatakan wabah ini sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
>>> Kebijakan Imigrasi Baru Trump Persulit Jalur Menuju Green Card
Penutupan perbatasan mendorong pergerakan orang dan barang ke perlintasan informal yang tidak dipantau, sehingga meningkatkan kemungkinan penyebaran penyakit, kata WHO.
Perbatasan Uganda-Kongo memiliki panjang beberapa ratus mil dan dilintasi banyak jalur setapak di luar pos perbatasan resmi.
Otoritas kesehatan Kongo berjuang untuk menahan wabah, yang menurut WHO melampaui kemampuan mereka. Jenis Ebola langka ini dikonfirmasi berminggu-minggu terlambat karena pengujian dilakukan untuk jenis yang lebih umum.
Tantangan lain termasuk ancaman dari kelompok bersenjata di Kongo timur, sejumlah besar pengungsi, dan infrastruktur yang buruk.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan gencatan senjata di Kongo timur untuk memungkinkan akses aman bagi petugas respons.
Petugas respons di Kongo mengatakan mereka kurang persiapan dan perlindungan untuk wabah ini, sementara penduduk yang trauma konflik telah menyerang sejumlah klinik dan melempari petugas dengan batu.
Kekhawatiran di Uganda
Uganda telah melaporkan tujuh kasus Ebola, termasuk kasus pertama seorang pria berusia 59 tahun yang meninggal di Kampala pada 14 Mei.
Meskipun jumlah kasus tidak melonjak, jumlah warga yang terpapar infeksi melalui petugas kesehatan terus meningkat.
Mereka memiliki keluarga, sehingga jumlahnya terus bertambah, kata Atwine tentang petugas kesehatan.
Ia juga mengatakan kecewa melihat beberapa warga Uganda berkumpul untuk merayakan Arsenal sebagai juara Liga Premier Inggris.
Atwine mendesak masyarakat untuk waspada, menghindari jabat tangan, dan menggunakan pembersih tangan. Kongo telah mengalami 17 wabah Ebola.
Pakar kesehatan mengatakan pemotongan bantuan tahun lalu oleh AS dan negara kaya lainnya sangat menghancurkan Kongo timur.
>>> S&P 500 dan Nasdaq Melemah, Investor Tunggu Perkembangan Timur Tengah
Kelompok bantuan yang memerangi wabah ini mengatakan mereka tidak memiliki peralatan yang mereka butuhkan, termasuk pelindung wajah dan pakaian pelindung untuk melindungi petugas kesehatan dari infeksi, alat tes, dan kantong jenazah.