unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Pemasaran di Atas Tali: Bisnis Korea Khawatir Jadi Starbucks Berikutnya

Pemasaran di Atas Tali: Bisnis Korea Khawatir Jadi Starbucks Berikutnya

Pemasaran di Atas Tali: Bisnis Korea Khawatir Jadi Starbucks Berikutnya
Protes boikot Starbucks di Seoul
A A Ukuran Teks16px

Kontroversi serupa juga muncul pada 2023 dalam video promosi game MapleStory oleh Nexon Korea, dan pada 2024 dalam video promosi Renault Korea.

Kontroversi Lain yang Muncul

Pada 9 Mei, waralaba ayam Pelicana Chicken merilis iklan AI yang menampilkan plot perselingkuhan istri, menuai kritik karena dianggap meremehkan perzinahan.

>>> Rahasia Awet Muda: Kebiasaan Sehat yang Membuat Penampilan Lebih Muda

IN2

Pada 11 Mei, saluran YouTube Giants TV yang dioperasikan tim bisbol Lotte Giants dituduh mengejek mantan Presiden Roh Moo-hyun melalui teks yang ditampilkan di video.

Insiden-insiden ini menunjukkan bahwa pilihan kreatif yang tampaknya sepele kini semakin menjadi fokus kontroversi publik.

Kekhawatiran dan Tindakan Perusahaan

Seiring kontroversi lama terus muncul kembali, industri ritel semakin gugup. Beberapa perusahaan khawatir kontroversi yang sebelumnya tidak ada bisa tiba-tiba muncul.

in2

Sebagai respons, sejumlah perusahaan mulai melakukan tinjauan internal.

Sebuah perusahaan makanan baru-baru ini meluncurkan audit komprehensif terhadap konten promosi yang sudah dipublikasikan di situs web dan media sosial.

Perusahaan lain berencana memberikan pelatihan kepada karyawan di departemen komunikasi publik, termasuk humas dan pemasaran, dengan fokus pada peningkatan kesadaran sejarah dan kepekaan sosial.

Namun, para pelaku industri mengakui keterbatasan yang signifikan. Sulit untuk mengidentifikasi setiap referensi bermasalah atau slang internet yang terus berubah.

Beberapa figur industri bercanda bahwa departemen pemasaran mungkin memerlukan "detektor" internal yang mampu mengidentifikasi referensi terkait komunitas online sayap kanan Ilbe sebelum konten dirilis.

Pandangan Pakar

Jeong Yeon-seung, profesor bisnis di Universitas Dankook, menyarankan perusahaan untuk menetapkan prosedur tinjauan khusus selama tahap perencanaan pemasaran untuk memeriksa dampak historis, politik, dan sosiokultural dari konten.

"Memperkenalkan sistem penyaringan yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) juga akan menjadi pendekatan yang efisien," katanya.

Seo Yong-gu, profesor di Universitas Sookmyung, menekankan perlunya organisasi untuk meningkatkan standar etika dan kesadaran sosial karyawan.

"Perusahaan harus menumbuhkan lingkungan di mana anggota tim dapat saling menantang dan memeriksa ide satu sama lain, serta mengembangkan budaya perusahaan yang berhati-hati," ujarnya.

>>> Pemenang Booker Prize: Sastra Jadi Kekuatan Abadi untuk Perubahan

"Hanya dengan begitu pertumbuhan yang stabil akan mungkin terjadi."

D
Tim Redaksi
Penulis: Dwi Andini
📰 Update Terbaru