>>> Asus Kenalkan Empat Vivobook OLED dengan Klaim Baterai 25 Jam
Mencari K-Backrooms
Meskipun gagasan menemukan Backrooms di Korea mungkin terdengar mustahil, pencarian di media sosial menunjukkan banyak konten tentang ruang liminal Korea, mulai dari bagian stasiun kereta bawah tanah yang belum jadi hingga bangunan terbengkalai yang tidak pernah dihuni.
Korea, dengan modernisasinya yang cepat, memiliki banyak ruang liminal yang menunggu tujuan. Dulu hanya didokumentasikan dari mulut ke mulut, kini ruang-ruang itu menarik perhatian setelah film "Backrooms" tayang.
Satu situs web menawarkan peta Backrooms buatan warga yang bertujuan mengkatalogkan ruang liminal di seluruh Semenanjung Korea.
Saat ini ada 100 lokasi yang terdaftar, masing-masing menampilkan informasi seperti keamanan, aksesibilitas, serta tingkat ketakutan dan liminalitas.
Peta ini menerima kiriman dari pengguna yang melalui proses verifikasi sebelum ditambahkan secara resmi.
Peta ini tampaknya lebih sebagai bentuk solidaritas—pengguna anonim yang sama-sama mengingat ruang yang kehilangan fungsinya, berusaha mempertahankan rasa normal.
Calon pengunjung disarankan untuk mengambil tindakan pencegahan keselamatan, seperti membawa senter, berkunjung dalam kelompok, dan memberi tahu orang lain ke mana mereka pergi.
Dalam film "Backrooms" karya Parsons, lokasi tersebut berfungsi sebagai refraksi realitas yang tercipta dari ingatan dan trauma para protagonis, dihuni oleh salinan setengah ingat dari penghuni dunia nyata.
Backrooms—dan popularitas ruang liminal sebagai sumber ketakutan dan kenyamanan—mencerminkan kecemasan generasi yang dibesarkan di ruang perkotaan yang terhubung secara hiper.
>>> Asus V700 Mini Tower: Desktop dengan Desain Furnitur dan Performa Tinggi
Mungkin film Parsons, "Peta Backrooms", dan tren horor liminal adalah upaya generasi muda untuk menerima bagaimana mereka dibentuk oleh ruang-ruang tertentu, entah itu baik atau buruk.