Dokumen itu mengonfirmasi bahwa kedua negara menyetujui 13 pasal perjanjian setelah negosiasi alot mengenai kebebasan beragama.
Sepanjang abad ke-19, gelombang penganiayaan terhadap umat Katolik Korea menyebabkan eksekusi ribuan penganut dan beberapa misionaris Prancis.
Hal ini menjadikan kebebasan beragama sebagai klausul paling kontroversial dan simbolis dalam perjanjian.
Prancis mendorong kebebasan misi Katolik, yang akhirnya dimasukkan dan menjadi model bagi perjanjian negara Barat lainnya dengan Dinasti Joseon (1392-1910).
Hubungan diplomatik sempat terputus selama penjajahan Jepang, tetapi dipulihkan setelah kemerdekaan Korea dan diperkuat melalui partisipasi Prancis dalam Perang Korea (1950-1953).
>>> 5 Mitos Diet yang Menyesatkan Saat Menurunkan Berat Badan
Vas Porselen Putih 'Salamina'
Vas porselen putih setinggi 1,2 meter bernama "Salamina" dikirim oleh Presiden Prancis Marie Francois Sadi Carnot kepada Raja Gojong (1852-1919).
Dibuat pada tahun 1878 dan dipersembahkan sepuluh tahun kemudian, vas ini dianggap sebagai hadiah resmi pertama dari kepala negara Barat untuk Joseon.
Secara gaya, vas itu terlihat sangat asing di lingkungan istana yang terbiasa dengan garis sederhana dan palet warna kalem keramik Korea.
Bagian dalam vas bertanda tanggal dan tempat produksi, mencerminkan kecanggihan industri dan artistik Prancis.
Vas ini adalah bagian dari trio porselen Prancis yang dikirim ke istana Korea.
Sepasang vas biru besar Clodion lainnya dibawa ke Tokyo ketika kediaman Putra Mahkota Yeongchin di Akasaka selesai dibangun sekitar tahun 1930.
Pasangan itu kini berada di Grand Prince Hotel Akasaka di Tokyo.
Pohon Buatan Berhiaskan Permata
Sepasang pohon buatan yang memukau, atau "banhwa", adalah hadiah balasan Raja Gojong kepada Prancis pada Juli 1887.
Karya asli berupa rangkaian pinus dan cemara dalam pot bunga kini disimpan di Musee Guimet di Paris, dianggap terlalu rapuh untuk dipindahkan.