Seoul Real Book Fair resmi diluncurkan sebagai alternatif dari Seoul International Book Fair (SIBF) yang akan digelar pada 24-28 Juni di Coex, Seoul Selatan.
Acara ini digagas oleh sekelompok penerbit independen yang frustrasi karena tidak bisa mendapatkan stan di SIBF meskipun permintaan tinggi.
>>> Dampak Kesehatan Membuang Lemak Perut Babi
Seoul Real Book Fair akan berlangsung di Nodeul Lounge, Nodeul Island, pada 25-28 Juni 2025.
Kritik terhadap SIBF
Panitia penyelenggara Seoul Real Book Fair mengecam SIBF yang dianggap telah terprivatisasi dan hanya menguntungkan segelintir pemegang saham besar.
Menurut mereka, SIBF seharusnya menjadi festival publik yang dibangun oleh pembaca dan penerbit Korea selama 50 tahun terakhir.
Kritik juga menyasar keputusan SIBF yang menaikkan biaya stan, mengurangi perhatian pada pengunjung anak-anak dan keluarga, serta lebih mengutamakan sponsor dari perusahaan besar seperti makanan, kecantikan, dan teknologi.
"Buku adalah benteng terakhir martabat manusia, dan pameran buku adalah bunga dari budaya buku," ujar panitia.
"SIBF harus diperlakukan sebagai aset publik, bukan sebagai kendaraan untuk memaksimalkan keuntungan pribadi."
Keterbatasan Ruang
Banyak pihak di industri penerbitan mengatakan masalah utama SIBF adalah keterbatasan ruang, yang menyebabkan sekitar 40-50 penerbit kecil tidak kebagian stan.
>>> Buah dan Sayur Terbaik untuk Mengatasi Panas Musim Panas
Pemasar penerbitan dan influencer Instagram Park Jung-hyeok, yang dikenal sebagai "Park Daeri," mengatakan bahwa banyak penerbit ditolak dan stan besar mendominasi lantai pameran.
"Ketika penerbit besar menguasai semua jalur utama, penerbit kecil terdesak ke sudut-sudut yang hanya dilewati orang saat sudah lelah," tambahnya.
Konsep Seoul Real Book Fair
Sebagai tandingan, Seoul Real Book Fair akan menyediakan 60 stan berukuran sama untuk penerbit, toko buku, dan penulis, tanpa memandang skala atau popularitas.
Peserta akan menampilkan buku dari berbagai genre seperti sastra anak, sejarah, humaniora, filsafat, ilmu sosial, dan narasi perempuan, dengan penekanan pada perspektif yang beragam dan sering terabaikan.
Sementara itu, SIBF sendiri mengalami lonjakan popularitas berkat budaya "text hip" di kalangan anak muda Korea yang menjadikan membaca sebagai gaya hidup.
Tiket SIBF tahun lalu habis terjual saat pra-penjualan online, dan tiket early bird tahun ini juga langsung ludes.
>>> Profesor Korea Jembatani Budaya dengan Zimbabwe Lewat Kuliah Daring
Panitia SIBF mengatakan akan menyediakan sebagian tiket untuk penjualan di tempat.