Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi dalam 31 tahun pada Selasa (16/6/2026).
Kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0% ini merupakan yang pertama sejak Desember dan tertinggi sejak 1995.
>>> UNICEF: Lebih dari 1 Miliar Anak Terpapar Tiga Risiko Iklim atau Lebih
Langkah tersebut diambil untuk memerangi inflasi yang dipicu oleh perang Timur Tengah, meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai.
Keputusan yang Diharapkan
Keputusan ini sudah diperkirakan oleh pasar dan menyusul kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa dan Bank Indonesia pekan lalu.
Konflik di Timur Tengah telah menyebabkan kekacauan ekonomi dan kenaikan harga di seluruh dunia.
Inflasi AS saat ini berada di level tertinggi dalam tiga tahun, sehingga banyak pihak memperkirakan Federal Reserve akan mengikuti langkah serupa.
Namun, Gubernur Fed yang baru, Kevin Warsh, diperkirakan belum akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pertamanya pekan ini.
Bank Sentral Australia dan Inggris juga diperkirakan akan menahan suku bunga dalam beberapa hari ke depan.
Dampak Perang dan Yen
Jepang sangat bergantung pada Timur Tengah untuk pasokan minyak mentahnya, yakni sekitar 90% sebelum perang dimulai pada 28 Februari.
Masalah ekonomi Jepang diperparah oleh pelemahan yen yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak dan selisih suku bunga dengan AS.
Pemerintah Jepang telah menghabiskan sekitar 11,7 triliun yen (US$72 miliar) bulan lalu untuk menopang mata uang yang terpuruk di kisaran 160 yen terhadap dolar AS.
>>> AS: Selat Hormuz Bebas Tol di Bawah Kesepakatan Damai dengan Iran
Setelah pengumuman BoJ, yen sempat menguat terhadap dolar, tetapi kemudian kehilangan sebagian besar keuntungannya.