Hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah diuji. Trump melontarkan kritik terbuka yang belum pernah dilakukan presiden AS sebelumnya terhadap Netanyahu.
Dalam beberapa wawancara, Trump bahkan menyebut Netanyahu 'gila' dan mengklaim bahwa tanpa dirinya, Israel tidak akan ada. "Tanpa AS, tidak akan ada Israel.
>>> Dow Cetak Rekor Tertinggi, Nasdaq dan S&P 500 Melemah
Tanpa saya, tidak akan ada Israel karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang saya lakukan," kata Trump di KTT G7 di Prancis.
Ketegangan ini terjadi saat Trump berusaha menyelesaikan kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Trump mengkritik serangan Israel baru-baru ini di Lebanon yang dinilainya membahayakan negosiasi antara Washington dan Teheran.
Seorang mantan penasihat urusan Timur Tengah, Aaron David Miller, mengatakan bahwa Trump siap menggunakan pengaruhnya jika Netanyahu menghalangi keinginannya untuk keluar dari perang.
Kesepakatan dengan Iran dijadwalkan ditandatangani pada Jumat di Jenewa.
Kritik Trump menuai reaksi beragam. Halie Soifer dari Jewish Democratic Council of America menyebut pernyataan Trump sangat ofensif.
>>> Dana Investasi Iran $300 Miliar dalam Kesepakatan AS-Iran, Lebih dari Separuh Sudah Dikomitmenkan
Sementara itu, Ketua Koalisi Yahudi Republik Matt Brooks menganggap kritik tersebut sebagai ketidaksepakatan biasa antar anggota keluarga.
Brooks menekankan rekam jejak Trump yang pro-Israel, seperti pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem dan pemulangan sandera Israel dari Gaza.
Menurutnya, kritik Trump berbeda dengan kritik dari pihak yang memusuhi Israel.
Namun, advokat pro-Israel Mort Klein khawatir Trump mengkritik Netanyahu di depan umum untuk menarik simpati para kritikus Israel.
"Itu mengkhawatirkan saya," kata Klein, presiden Zionis Organization of America.
Konsensus bipartisan di Washington untuk mendukung Israel telah memudar dalam beberapa tahun terakhir.
>>> Lee Sebut Hubungan dengan Kanada Maju Pesat dan Saling Menguntungkan
Kaum liberal marah atas perlakuan Israel terhadap Palestina, sementara konservatif mempertanyakan pentingnya dukungan AS yang lama.