Bagi seorang perempuan yang menonton bersama istrinya, pertunjukan itu "sangat mengejutkan."
Dalam unggahan media sosial panjang, ia mengaku awalnya merasa irama trot yang menghentak dan gaya pertunjukan yang kasar terasa "murah" dibandingkan estetika pop rapi yang secara bawah sadar ia harapkan di Pride.
Namun, ia menyadari Pride tidak harus berarti glamor, muda, atau Instagramable.
Pride bisa berarti tubuh segala usia yang bergoyang mengikuti "Tears" milik So Chan-whee bersama bibi, paman, dan balita.
Para perempuan di truk itu mengatakan pengalaman tersebut mengubah mereka.
Anggota grup 3040+ menulis bahwa mereka menemukan keberanian untuk mengakui perasaan kepada teman lama, coming out kepada keluarga, atau merangkul identitas yang selama bertahun-tahun mereka sembunyikan setelah naik ke truk itu.
Tindakan terlihat dan terdengar queer di usia paruh baya — dan disambut sorak-sorai — bergema jauh melampaui satu parade musim panas.
Representasi di Layar Lebar
Kehadiran perempuan queer juga terlihat di layar bioskop.
Film "Manok" garapan Lee Yu-jin yang dirilis 10 Juni lalu mengikuti Manok (diperankan Yang Mal-bok), seorang lesbian paruh baya yang dulu mengelola bar lesbian gemerlap di Seoul.
Setelah kematian ibunya, ia kembali ke kampung halaman, desa konservatif bernama Iban-ri, berharap hidup tenang.
>>> Kejutan Harga Big Mac di Meksiko: Realitas Piala Dunia Seorang Wartawan
Alih-alih, kepulangannya memicu gosip bukan tentang seksualitasnya, melainkan fakta bahwa ia adalah mantan istri Cheol-ju, kepala desa picik yang kekuasaannya menjangkau setiap sudut kehidupan lokal, mendorongnya untuk melawannya dalam pemilihan mendatang.
Film tidak menampilkan Manok sebagai korban tragis atau simbol suci ketahanan minoritas.
Ia digambarkan sebagai perempuan keras kepala, bermulut kotor, dan sangat manusiawi yang seksualitasnya hanya satu sisi karakternya.