Kritik dari Dalam Negeri AS
Di Washington, beberapa sekutu Partai Republik Presiden Donald Trump di Kongres mempertanyakan apakah ia terlalu banyak berkonsesi untuk mengakhiri konflik yang tidak populer di kalangan warga AS menjelang pemilihan paruh waktu November.
>>> Juru Runding Utama Iran Tegaskan Perundingan dengan AS Terikat 'Garis Merah' Teheran
Pada Maret, Trump bersumpah akan mengakhiri perang hanya dengan "MENYERAH TANPA SYARAT" Iran.
Namun nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Iran justru memberikan keringanan sanksi ekonomi, membekukan aset senilai puluhan miliar dolar, dan memberikan keringanan langsung AS untuk ekspor minyaknya.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan Trump menandatangani kesepakatan itu "karena putus asa" dan memberi isyarat bahwa mendekati perundingan atas program nuklir Iran tidak akan mudah.
"Jika pihak Amerika ingin terlalu menuntut, kami tidak akan menerimanya," katanya dalam sebuah pesan.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran berjanji akan memberikan respons timbal balik terhadap setiap pelanggaran oleh pihak Amerika yang "tidak dapat dipercaya".
Kesepakatan itu memberi negosiator waktu 60 hari untuk menyepakati status program nuklir Iran, kecuali jika perpanjangan disetujui, dan untuk mendirikan dana rekonstruksi senilai $300 miliar untuk Iran serta insentif keuangan lainnya.
Vance mengatakan Washington juga akan berupaya membatasi rudal jarak jauh Iran.
Biaya perang yang terus meningkat juga menjadi sorotan, karena departemen pertahanan AS memberi tahu anggota Kongres bahwa mereka membutuhkan $80 miliar untuk menutupi biaya dan beberapa tagihan yang tidak terkait, demikian laporan Wall Street Journal.
Pejabat AS mengatakan perundingan masih bisa menghasilkan kesepakatan yang kuat tentang program nuklir Iran, yang bertujuan lebih baik dari kesepakatan tahun 2015 antara Iran, AS, dan negara lain yang dibatalkan Trump pada masa jabatan pertamanya.
>>> Israel Serang Lebanon, 18 Tewas dan Empat Tentara Israel Gugur
Namun para kritikus mengatakan Iran kini berada dalam posisi yang lebih kuat, setelah bertahan dari serangan negara adidaya, menunjukkan kendalinya atas Selat Hormuz, dan mendapatkan keringanan sanksi keuangan yang berharga.