Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara pada hari Minggu yang menargetkan Garda Revolusi Iran sebagai balasan atas tewasnya tentara AS di Yordania.
Serangan ini memperluas baku tembak antara kedua negara setelah kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang mereka gagal.
>>> Airlangga Perkuat Kemitraan RI-Tiongkok Lewat WAICO
Komando Pusat Militer AS menyatakan bahwa serangan tersebut menghantam fasilitas pengawasan pesisir, pertahanan udara, kemampuan maritim, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone milik Iran.
Serangan dirancang untuk menurunkan kemampuan Iran mengendalikan Selat Hormuz dan menghukum pasukan Garda Revolusi Islam, yang merupakan basis kekuatan utama dalam teokrasi Iran dan mengendalikan persenjataan rudal balistiknya.
Rekaman yang dirilis militer AS menunjukkan serangan dilakukan oleh jet tempur dan rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari laut.
Salah satu target tampak berada di lembah pegunungan.
Iran sering menempatkan pangkalan rudal dan peralatan militer lainnya di daerah pegunungan.
Korban dan Dampak Serangan
Serangan Iran terhadap pangkalan di Yordania menewaskan dua anggota militer AS, satu orang hilang, dan empat lainnya dirawat di rumah sakit.
Sejak perang dimulai, 16 tentara AS tewas dan lebih dari 430 terluka. Otoritas Iran mengatakan setidaknya 50 orang tewas dan lebih dari 500 terluka dalam serangan AS terbaru.
Badan energi atom Iran melaporkan bahwa serangan AS pada Minggu pagi menargetkan lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir yang direncanakan di barat daya Iran, menurut televisi negara Iran.
>>> AS dan Iran Saling Serang Setelah Dua Tentara Tewas di Yordania
Iran sebelumnya tidak mengumumkan bahwa situs Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Darkhovin, yang belum menghasilkan listrik, telah diserang selama perang.
