Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara pada hari Minggu yang menargetkan Garda Revolusi Iran sebagai balasan atas tewasnya tentara AS di Yordania.
Serangan ini memperluas baku tembak antara kedua negara setelah kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang mereka gagal.
Komando Pusat Militer AS menyatakan bahwa serangan tersebut menghantam fasilitas pengawasan pesisir, pertahanan udara, kemampuan maritim, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone milik Iran.
Serangan dirancang untuk menurunkan kemampuan Iran mengendalikan Selat Hormuz dan menghukum pasukan Garda Revolusi Islam, yang merupakan basis kekuatan utama dalam teokrasi Iran dan mengendalikan persenjataan rudal balistiknya.
Rekaman yang dirilis militer AS menunjukkan serangan dilakukan oleh jet tempur dan rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari laut.
Salah satu target tampak berada di lembah pegunungan.
Iran sering menempatkan pangkalan rudal dan peralatan militer lainnya di daerah pegunungan.
Korban dan Dampak Serangan
Serangan Iran terhadap pangkalan di Yordania menewaskan dua anggota militer AS, satu orang hilang, dan empat lainnya dirawat di rumah sakit.
Sejak perang dimulai, 16 tentara AS tewas dan lebih dari 430 terluka. Otoritas Iran mengatakan setidaknya 50 orang tewas dan lebih dari 500 terluka dalam serangan AS terbaru.
Badan energi atom Iran melaporkan bahwa serangan AS pada Minggu pagi menargetkan lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir yang direncanakan di barat daya Iran, menurut televisi negara Iran.
Iran sebelumnya tidak mengumumkan bahwa situs Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Darkhovin, yang belum menghasilkan listrik, telah diserang selama perang.
Serangan Balasan Iran ke Negara Teluk
Hampir setiap negara Arab Teluk menjadi sasaran serangan balasan Iran.
Kuwait mengatakan pada hari Minggu bahwa salah satu pembangkit listrik dan desalinasi airnya diserang untuk kedua kalinya dalam dua hari, menyebabkan kebakaran.
Kementerian Air dan Energi Terbarukan Kuwait menyatakan bahwa jaringan listrik tetap stabil, namun serangan ini merupakan contoh terbaru di mana serangan oleh AS dan Iran menargetkan infrastruktur sipil yang digunakan oleh jutaan orang.
Di Kuwait, sekitar 90% air minum berasal dari desalinasi.
Kuwait dan Bahrain kembali mengaktifkan pertahanan udara pada Minggu pagi setelah memperingatkan adanya drone dan rudal Iran yang masuk.
Iran selama seminggu terakhir menahan diri untuk tidak menyerang Israel atau Uni Emirat Arab.
Namun, kantor berita semi-resmi Fars, yang diyakini dekat dengan Garda Revolusi, mengeluarkan ancaman terhadap UEA pada Sabtu malam.
Mengutip seorang pejabat anonim, Fars mengatakan bahwa serangan berkelanjutan terhadap infrastruktur sipil Iran berarti "bandara Dubai dan Abu Dhabi, serta pelabuhan Fujairah dan Jebel Ali, harus segera dievakuasi."
