Militer Filipina menuduh penjaga pantai China memukul seorang pelaut Filipina dengan pentungan pada Senin (20/7) saat mereka mendekati kapal kandas yang telah lama menjadi pos militer Filipina di Laut China Selatan yang disengketakan.
Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah Kementerian Luar Negeri Filipina mengatakan bahwa para diplomat tinggi kedua negara akan bertemu di KTT regional di Manila pekan ini.
>>> AS Tuding Kuba Infiltrasi Level Tertinggi Pemerintahan
Filipina dalam pernyataannya mengatakan sebuah perahu karet China dengan delapan orang berputar-putar dan mengambil foto serta video BRP Sierra Madre, yang berada di Second Thomas Shoal di Kepulauan Spratly.
China mengklaim hampir seluruh jalur air penting tersebut meskipun ada putusan internasional yang menyatakan klaimnya tidak memiliki dasar hukum, dan sering bentrok dengan kapal Filipina di kawasan itu.
Bentrokan terbaru terjadi setelah dua perahu karet dikirim untuk mengusir kelompok China, demikian pernyataan Filipina.
"Personel (China) bereaksi dengan keras dan agresif dengan memukul kepala personel Angkatan Laut Filipina menggunakan pentungan kayu, menyebabkan cedera dan merusak perahu karet Angkatan Laut," kata pernyataan itu.
Penjaga pantai China dalam pernyataannya mengatakan telah mengambil "tindakan balasan timbal balik" dan memberikan "peringatan lisan" sebagai respons terhadap dua perahu karet yang dikirim dari kapal Filipina yang kandas.
"Dengan mengabaikan peringatan jelas yang berulang dari pihak kami, perahu-perahu ini dengan cepat mendekati kapal patroli China dengan cara berbahaya, mencoba mengepung dan menabraknya," kata pernyataan itu.
>>> Prabowo Klaim PT DSI Kelola Devisa US$10,5 Miliar dalam Waktu Singkat
Departemen Pertahanan Filipina dalam pernyataan terpisah mengatakan pertemuan itu menambah "pola jelas perilaku provokatif dan bermusuhan" oleh penjaga pantai China.
