Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan peredaran beras fortifikasi yang tidak memenuhi standar. Praktik ini dinilai berpotensi merugikan konsumen hingga Rp71 triliun.
Selain itu, negara juga berpotensi kehilangan sekitar Rp56 triliun dari sisi subsidi pangan.
Amran menegaskan bahwa beras fortifikasi seharusnya menjadi pangan bergizi bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kelompok rentan, dan anak-anak berisiko stunting.
Oleh karena itu, harga jualnya seharusnya tidak jauh berbeda dengan beras medium.
Namun, dalam keterangan resmi yang disiarkan Jumat (31/7/2026), Amran menyebut ada beras fortifikasi yang dijual hingga Rp42.000 per kilogram.
"Fortifikasi itu diberikan vitamin-vitamin khusus untuk masyarakat menengah ke bawah, orang yang stunting, atau kekurangan gizi.
Logikanya harganya harus murah, minimal setara beras medium atau sedikit lebih tinggi karena ada tambahan vitamin. Namun, ternyata ada yang dijual sampai Rp42.000/kg.
Ini tidak masuk akal, ini akal-akalan," kata Amran.