Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (3/8) mengklaim bahwa pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung.
Dia menyebut ini sebagai 'kesempatan terakhir' bagi Teheran untuk menandatangani kesepakatan yang baik guna mengakhiri perang yang telah berlangsung lima bulan.
>>> Lebih dari 718 Ribu Siswa Manfaatkan PIJAR, Telkom Perluas Pendidikan Digital
Namun, Iran dengan tegas membantah adanya negosiasi yang sedang berlangsung atau direncanakan. Pernyataan yang kontradiktif ini menunjukkan sedikit harapan untuk penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat.
Dalam acara di Oval Office, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pembicaraan 'sedang berlangsung sekarang'.
Dia menambahkan bahwa pihak-pihak yang terlibat berbicara atas permintaan Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Pernyataan Trump muncul setelah keputusannya akhir pekan lalu untuk membatalkan serangan besar-besaran yang katanya telah dia otorisasi terhadap Iran.
Dia beralasan pembicaraan akan dilakukan, mengulangi pola di mana dia mengancam serangan besar namun kemudian membatalkannya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, sebelumnya pada Senin mengatakan tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat yang sedang berlangsung dan tidak ada pertemuan yang dijadwalkan.
Iran tidak memiliki rencana untuk menjadi tuan rumah delegasi asing atau mengirim negosiator ke luar negeri dalam beberapa hari mendatang.
Baghaei menambahkan bahwa semua negosiator Iran saat ini berada di dalam negeri, kecuali Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi yang sedang melakukan ziarah keagamaan di Irak.
Satu-satunya pembicaraan yang sedang berlangsung adalah diskusi dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz.
Seorang sumber senior Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa tidak ada pembicaraan yang direncanakan dan Araqchi tidak akan tersedia setidaknya hingga akhir pekan.
Pola Berulang
Perkembangan Senin tampaknya sesuai dengan pola yang muncul sejak Trump meluncurkan 'Operasi Epic Fury' bersama Israel lebih dari lima bulan lalu.
