Saudi Aramco membukukan kenaikan laba 33% pada kuartal kedua tahun ini. Lonjakan harga minyak akibat perang menjadi pendorong utama kinerja perusahaan.
Laba bersih yang disesuaikan mencapai US$33,4 miliar, naik dari US$25,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka ini melampaui perkiraan analis yang dihimpun Bloomberg, yakni US$31,1 miliar.
Harga minyak mentah acuan Brent rata-rata hampir US$97 per barel selama kuartal tersebut. Penutupan Selat Hormuz menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Aramco mengalihkan sebagian besar ekspornya ke Laut Merah untuk menjaga kelancaran pasokan.
Namun, perusahaan kini menghadapi risiko baru setelah kelompok Houthi Yaman mengancam akan menyerang kapal tanker yang melintasi rute tersebut.