Ledakan acara kencan realitas Korea memasuki babak baru yang rumit.
Penyakit terminal dan kecerdasan buatan (AI) kini bergabung dengan mantan kekasih, pasangan bercerai, dukun, dan peserta LGBTQ+ di layar kaca.
>>> Ayaneo Konkr Pocket Advance Resmi Meluncur, Konsol Genggam Retro yang Bisa Emulasi PS2
Hal ini memunculkan pertanyaan baru tentang seberapa jauh hiburan romantis seharusnya melangkah.
Cinta di Tengah Keterbatasan Waktu
Acara baru SBS, "Love Against Time," yang tayang perdana Senin lalu, mengikuti orang dewasa muda berusia 20-an dan 30-an yang telah menerima diagnosis terminal atau selamat dari penyakit yang mengancam jiwa.
Mereka mencari "cinta yang tersisa" dalam hidup mereka.
Di episode pertama, delapan kontestan bertukar obrolan ringan dan senyum malu-malu, lalu dengan hati-hati membuka "buku harian perawatan" mereka.
Mereka menceritakan tentang kanker stadium 4, pengangkatan total lambung, dan malam-malam ketika mereka merasakan kematian semakin dekat.
Perangkat penjodohan dalam acara ini, "ruang waktu," mengubah kelangkaan menjadi permainan.
Setiap malam, peserta menerima 100 menit yang dibagi menjadi 10 segmen masing-masing 10 menit untuk dialokasikan kepada calon pasangan.
Jika dua orang saling mengirim setidaknya total 100 menit, mereka bisa mendapatkan kencan yang berlangsung antara 100 hingga 200 menit.
Waktu—yang tadinya pengingat pribadi akan harapan hidup yang terbatas—menjadi mata uang romansa di layar.
Di Netflix, acara ini sudah masuk dalam 10 besar serial Korea, debut di peringkat 9, menunjukkan minat penonton streaming di minggu pertama.
Minat luar negeri juga kuat, dengan kesepakatan lisensi pra-rilis dengan platform regional besar termasuk ABEMA Jepang, friDayVideo Taiwan, dan Viu Hong Kong.
Produser Lee Eun-sol berpendapat bahwa serial ini tidak berpusat pada penyakit, melainkan pada apa yang terjadi setelahnya.
