Kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino mulai menekan sektor pertanian di Kabupaten Lebak, Banten. Sejumlah petani terpaksa memanen padi lebih awal untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Di Kampung Cibungur, Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, petani sudah memanen tanaman meski belum masuk masa panen.
>>> Prancis Siaga Gelombang Panas Kelima, Eropa Barat Catat Rekor Suhu
Banyak bulir padi tidak terisi sempurna karena kekurangan pasokan air selama masa pertumbuhan.
Keluhan Petani
Salah seorang petani, Acih, mengaku sawah yang digarapnya tidak mendapat pasokan air sekitar tiga bulan terakhir.
Kondisi tersebut membuat pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil panen berkurang drastis dibanding musim tanam sebelumnya.
"Sudah tiga bulan enggak ada air. Hasilnya turun.
Biasanya panennya banyak, sekarang sedikit karena padinya tidak berkembang," kata Acih, Senin, 10 Agustus 2027.
Keluhan serupa disampaikan petani lainnya, Udin, yang memperkirakan hasil panennya menyusut hingga sekitar 70 persen. Selain kekeringan, serangan hama juga turut memperparah kondisi tanaman.
>>> Unitree dan Perlombaan Perusahaan Robot Humanoid China untuk Melantai di Bursa
"Hasilnya turun sekitar 70 persen. Penyebab utamanya kemarau, air tidak ada.
Irigasinya sebenarnya ada, tetapi sumber airnya sudah kering sehingga tidak mengalir ke sawah," ujarnya.
Menurut Udin, kebutuhan air untuk sawah dipenuhi jaringan irigasi yang bersumber dari kawasan Cijoro. Namun, debit air di bagian hulu terus berkurang hingga aliran irigasi terhenti.
"Panen dini ini kami lakukan dampak kemarau panjang, namun hasil panen merosot drastis," ucapnya.
Dampak Kekeringan
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, kekeringan telah berdampak pada ratusan hektare areal persawahan.
>>> DPR Minta Polisi Usut Tuntas Kasus Senjata di Sekolah Jakarta Selatan
Dalam laporan kerusakan tanaman pada musim tanam April-Agustus 2026, luas lahan terdampak mencapai 314 hektare.
