unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Gempa Kolombia: Upaya Penyelamatan Masuki Fase Akhir, Korban Tewas 239
News

Gempa Kolombia: Upaya Penyelamatan Masuki Fase Akhir, Korban Tewas 239

Tim penyelamat mencari korban di reruntuhan gedung setelah gempa di Kolombia
Gempa Kolombia Masuki Fase Akhir Pencarian, Korban Tewas Capai 265
A A Ukuran Teks16px

Kolombia memasuki masa berkabung tiga hari pada Rabu (13/8) untuk para korban gempa bumi yang menewaskan 239 orang.

Tim penyelamat menyebut upaya pencarian korban selamat telah memasuki fase akhir.

Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang terjadi pada Senin (10/8) itu merupakan yang terkuat di Kolombia dalam seabad terakhir.

Bencana ini meluluhlantakkan wilayah barat yang dikenal sebagai daerah penghasil kopi.

Badan penanggulangan bencana nasional melaporkan sedikitnya 3.700 keluarga kehilangan tempat tinggal. Pemerintah memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di gedung-gedung resmi dan kedutaan besar Kolombia di luar negeri.

Fase Kritis 72 Jam

Wali Kota Cali, Alejandro Eder, mengatakan tim penyelamat memasuki fase akhir dari periode 72 jam pertama.

Rentang waktu tersebut dianggap sebagai peluang terbesar untuk menemukan korban selamat di bawah reruntuhan.

Meski peluang semakin kecil, para relawan dan petugas belum menyerah. Mereka terus bekerja dengan crane, anjing pelacak, dan alat berat di kota Pereira dan Cali.

Relawan juga membentuk rantai manusia untuk membersihkan puing-puing secara manual.

Sekitar 2.595 orang dilaporkan terluka dan 195 lainnya masih hilang.

Di Pereira, seorang wanita bernama Daniela Largo (32) berhasil dievakuasi dari reruntuhan hotel setelah terperangkap selama 35 jam.

Ibunya, Sandra Milena Perez, mengungkapkan rasa syukur karena putrinya selamat. Seorang warga setempat mendengar teriakan minta tolong dan membantu membersihkan puing sebelum tim profesional tiba.

Duka dan Solidaritas

Banyak warga menghabiskan malam kedua di luar rumah karena rumah mereka rusak atau takut akan gempa susulan.

Sebuah taman di Pereira disulap menjadi tempat penampungan darurat dengan tenda dan kasur.

John Tabasco (23) yang mengungsi bersama istri dan bayi berusia tujuh bulan mengatakan, "Kami kehilangan segalanya, tapi kami masih hidup."

Di kota pegunungan El Cairo, warga berkumpul di dapur umum sementara listrik masih padam.

Di Roldanillo, Yuliana Mendez memilah-milah puing toko produk kecantikan tempatnya bekerja. "Ini seperti memulai dari nol," katanya.

Warga lainnya, Ana Paulina Crosthwaite, mengaku masih shock dan harus memberi tahu anak-anaknya untuk memulai hidup baru.

Banyak warga Kolombia tergerak membantu dengan membawa air, makanan, dan kebutuhan lainnya. Antrean panjang terlihat di pusat donor darah.

"Ini tentang keinginan membantu komunitas, kota, dan negara," kata pendonor Ferney Cabrera.

Presiden Abelardo de la Espriella yang baru dilantik pada Jumat (8/8) telah menyatakan keadaan darurat dan menjanjikan subsidi sewa bagi keluarga terdampak.

Amerika Serikat mengumumkan bantuan darurat senilai 15,5 juta dolar AS.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru