Dua negara maju, Inggris dan Jepang, sama-sama meminta warganya menyiapkan persediaan darurat di rumah untuk kebutuhan tiga sampai tujuh hari. Imbauan itu muncul dari latar yang berbeda: kesiapsiagaan keamanan di satu sisi dan mitigasi bencana alam di sisi lain.
Di Inggris, pemerintah menggencarkan kampanye kesiapsiagaan bertajuk "Be Ready". Melalui kampanye tersebut, warga didorong menimbun pasokan darurat rumah tangga yang cukup untuk tiga hingga tujuh hari, mulai dari air minum kemasan, makanan tahan lama, uang tunai, hingga power bank.
Imbauan ini tidak lepas dari sejumlah pengalaman buruk yang pernah dialami Inggris, mulai dari insiden gangguan internet, gelombang panas ekstrem, sampai risiko kebakaran hutan. Sebelumnya, Komisi Eropa juga pernah mengimbau warganya menyiapkan kit darurat untuk 72 jam.
Sinyal Kesiapan Perang dan Ancaman Drone
Anggota parlemen Inggris, Wes Streeting, menulis di The Telegraph bahwa negaranya harus bersiap menghadapi kemungkinan perang dalam waktu sekitar 1.000 hari ke depan. Ia menilai pihak lawan bisa siap melancarkan serangan pada 2030, yang dikaitkan dengan agresi Rusia.
Sementara itu, The Independent melaporkan ancaman drone liar di sekitar pangkalan militer Inggris terjadi hampir setiap hari. Data Freedom of Information mencatat ada 340 insiden drone di atau dekat fasilitas Kementerian Pertahanan hingga Agustus 2026, naik dari 250 insiden pada 2025 dan 126 insiden pada tahun sebelumnya.
Jepang Fokus pada Gempa
Berbeda dengan Inggris, Jepang menekankan kesiapan menghadapi bencana alam, terutama gempa bumi. Negeri Sakura akan memiliki Badan Manajemen Bencana Nasional yang mulai beroperasi pada 2 November 2026, dengan tugas perencanaan, mitigasi, tanggap darurat, hingga pemulihan.
Menteri Manajemen Bencana Goshi Hosono menyampaikan bahwa setiap rumah tangga harus mampu bertahan secara mandiri minimal tiga hari, dan sangat dianjurkan menyiapkan persediaan hingga satu minggu. Dengan stok yang cukup, warga diharapkan dapat melewati masa-masa kritis sebelum bantuan tiba.