Para pemimpin negara-negara G7 mencapai kesepakatan pada Selasa (17/6) untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia guna mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun di Ukraina.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Rusia seharusnya "membuat kesepakatan" dan mengindikasikan Washington dapat memberlakukan kembali sanksi yang sebelumnya ditangguhkan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bergabung dalam KTT di resor Evian, Prancis. Pembahasan mencakup peningkatan sanksi dan kemungkinan pertemuan tatap muka antara Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Menurut analis, Ukraina semakin mampu bertahan di medan perang, namun kota-kotanya masih menjadi sasaran serangan mematikan Rusia dalam konflik yang kini berlangsung lebih lama dari Perang Dunia I.
Trump Desak Rusia Berdamai
Trump bertemu Zelensky di sela-sela KTT. Ia menekankan bahwa Rusia harus membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang.
"Seluruh hal ini konyol. Jadi, ya, saya akan melakukan apa pun yang saya bisa," kata Trump.
Ia menyoroti tingginya korban jiwa di kedua sisi, yang merupakan konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.
Trump juga mengatakan AS akan segera dapat memberlakukan kembali sanksi terhadap minyak Rusia setelah sebelumnya memberikan pengecualian.
"Segera kami akan bisa melakukannya karena minyak kini mengalir" melalui Selat Hormuz setelah kesepakatan dengan Iran, ujarnya.
Kesatuan Sikap G7
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan semua kekuatan G7 berada di posisi yang sama dan ada rasa persatuan yang nyata.
"Ukraina telah menunjukkan kemampuannya tidak hanya bertahan tetapi juga merebut kembali wilayah dan menimbulkan kerugian signifikan pada Rusia," katanya.
Starmer menyatakan Inggris memberlakukan serangkaian sanksi baru terhadap Rusia, termasuk pada kapal tanker yang mengangkut LNG, untuk menekan Moskow menghentikan perang.
Seorang sumber diplomatik Prancis mengatakan para pemimpin memutuskan untuk meningkatkan tekanan pada Rusia melalui sanksi terhadap gas dan minyak.
Tuan rumah KTT, Presiden Emmanuel Macron, mengundang Zelensky untuk tinggal hingga akhir KTT pada Rabu agar dapat bertemu Trump dan para pemimpin G7 lainnya.
Zelensky mengatakan dalam pesannya kepada wartawan Ukraina bahwa "di atas segalanya Putin tidak ingin mengakhiri ini, tetapi ia harus dipaksa...
pertama-tama, melalui sanksi."
Ia menunjukkan foto-foto gelombang serangan Rusia terbaru yang pada Senin menewaskan setidaknya 11 orang dan memicu kebakaran di sebuah katedral bersejarah di Kyiv.
Zelensky mengatakan Putin telah menolak tawaran pertemuan di KTT G7, namun ia juga menyarankan kepada Trump bahwa ia bisa bertemu pemimpin Rusia itu di Amerika Serikat.
"Tujuannya tetap mendorong pertemuan tatap muka antara Zelensky dan Putin, tetapi terserah Moskow untuk memberikan sinyal konkret tentang kemauan berdamai yang selama ini sama sekali tidak ada," kata seorang sumber diplomatik Italia.
Isu Iran Jadi Bahasan
Iran tetap menjadi topik utama di KTT, dengan sekutu ingin menanyai Trump tentang kesepakatannya dengan republik Islam itu untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Trump mengatakan AS tidak memiliki "kewajiban" untuk berinvestasi di Iran setelah kesepakatan, dan fokus utamanya adalah Iran tidak akan memperoleh senjata nuklir.
Jika itu terjadi, "semua neraka" akan "turun" ke negara itu.
Setelah pemimpin tertinggi Iran sebelumnya Ali Khamenei tewas pada hari pertama perang 28 Februari, Trump menggambarkan kepemimpinan yang tersisa di Teheran sebagai "orang yang sangat rasional" yang "baik diajak bekerja sama" dan "tidak radikal."
Trump juga mengatakan ia telah menyarankan kepada Israel agar Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menangani milisi Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon karena kampanye Israel menyebabkan terlalu banyak korban.
Sharaa "sangat baik dengan Hizbullah, tidak menyukai mereka," kata Trump, seraya menambahkan bahwa pemimpin Suriah itu — mantan jihadis — "bukan pramuka."