Di Seoul, terdapat sebuah gereja yang tidak memiliki salib terlihat di bagian luarnya.
Pengunjung yang hanya melihat fasadnya tidak dapat langsung membedakan apakah bangunan bata tersebut adalah gereja, kuil Buddha, atau sekolah.
>>> Novel Grafis Korea Pertama Kali Raih Eisner Award
Berjalan kaki singkat dari persimpangan Dongdaemun History and Culture Park menuju Jangchung Gymnasium akan terlihat bangunan bata seperti benteng yang ditopang oleh sekitar 10 penopang eksternal.
Struktur ini sangat kontras dengan gereja Korea konvensional yang ditandai dengan salib neon merah di mana-mana.
Bangunan ini merupakan karya penting dari arsitek modern Korea, Kim Swoo-geun (1931–1986).
Sejarawan arsitektur menganggap gereja ini sebagai salah satu mahakaryanya, bersama dengan bekas kantor pusat firma arsitektur Space di Distrik Jongno yang kini menjadi bangunan komersial.
Gereja ini telah lama menjadi destinasi arsitektur yang kurang dikenal, meskipun akses ke ruang utama hanya terbatas untuk jemaat.
Sejak Juli, Kyungdong Presbyterian Church membuka tur publik. Tur resmi ini memungkinkan pengunjung menjelajahi ruang utama dan kapel atas yang awalnya dibangun tanpa atap.
Mahakarya Arsitektur Sakral yang Menginspirasi Kekaguman
Pintu masuk ke ruang utama terletak di bagian belakang bangunan, sehingga pengunjung harus berjalan setengah keliling. Sebuah tangga berkelok membagi jalan utama dengan halaman gereja.
Gereja mengasosiasikan tangga tersebut dengan Kalvari, sementara catatan arsitektur menunjukkan Kim terinspirasi dari kuil gunung tradisional Korea dan cara mereka menggunakan arsitektur untuk menandai pemisahan antara kuil dan dunia sekuler di luar.
Pendekatan ini mencerminkan karya Kim setelah tahun 1970-an, yang menafsirkan ulang elemen tradisional Korea dalam arsitektur modern.
Kim merancang tiga bangunan keagamaan: Katedral Sacred Heart di Changwon pada 1979, Kyungdong Presbyterian Church di Seoul pada 1982, dan Gereja Katolik Bulgwang-dong di Seoul utara pada 1985.

