Kualitas udara yang memburuk saat musim kemarau menjadi perhatian banyak orang. Terutama ketika puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Pada periode tersebut, kondisi udara di sejumlah wilayah berpotensi menurun kualitasnya. Hal ini terjadi ketika berbagai sumber polusi muncul secara bersamaan.
>>> Iran: Negara yang Ikut Sanksi AS Dianggap Musuh
Meski begitu, musim kemarau bukan satu-satunya faktor penentu kualitas udara. Masyarakat tetap perlu memantau informasi kualitas udara, terutama saat cuaca panas dan kering.
Pemantauan ini membantu menentukan kapan aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Terutama bagi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi.
Faktor Utama Penyebab Udara Buruk
Salah satu penyebab utama adalah minimnya hujan. Air hujan secara alami membantu membersihkan debu dan partikel di atmosfer.
Tanpa hujan, partikel polutan seperti debu dan asap akan bertahan lebih lama di udara. Akibatnya, konsentrasi polusi meningkat dan kualitas udara menurun.
Selain itu, aktivitas manusia seperti pembakaran sampah dan emisi kendaraan juga berkontribusi. Saat kemarau, kondisi ini semakin memperparah keadaan.
>>> Karhutla Kalimantan: DPD RI Dorong Restorasi Gambut untuk Cegah Krisis Asap
Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk. Menggunakan masker juga bisa menjadi langkah perlindungan.
Selain minimnya hujan, faktor lain yang memengaruhi kualitas udara adalah pola angin dan tekanan udara.
Saat musim kemarau, angin cenderung lebih lemah sehingga polutan tidak mudah tersebar dan justru terperangkap di dekat permukaan bumi.
Kondisi ini membuat konsentrasi partikel berbahaya seperti PM2.5 meningkat.
>>> LRT Jabodebek Catat Rekor 3 Juta Penumpang Sebulan Jelang Ulang Tahun Ketiga
Masyarakat disarankan untuk selalu memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi atau situs resmi, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan pernapasan.
