Choi Seung-hyun, CEO DragonEyes, memiliki perjalanan karier yang unik.
Selama hampir dua dekade, ia bekerja di bidang kepatuhan lisensi perangkat lunak dan anti-pembajakan, termasuk di Adobe, Microsoft, Business Software Alliance, dan PTC.
>>> Pria Paruh Baya Makin Peduli Penampilan Awet Muda, Ini Saran Dokter
Kini, pengalaman itu ia gunakan untuk mengembangkan agen AI yang dirancang menemukan konten berbahaya di internet dan membantu melindungi anak-anak.
Inspirasi dari Kepatuhan Lisensi
Menurut Choi, 20 tahun pengalamannya di kepatuhan lisensi menjadi inspirasi besar bagi DragonEyes.
"Berawal dari pertanyaan saya sebagai profesional kepatuhan tentang bagaimana menangani konten berbahaya secara online," ujarnya kepada The Korea Times.
Pertanyaan itu akhirnya membawanya mengembangkan agen AI.
Gagasan ini menjadi personal pada November 2025, ketika ia membaca tentang perusahaan game multinasional di AS yang menghadapi investigasi terkait penanganan konten berbahaya.
Beberapa kasus tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang pelecehan anak.
Choi, yang saat itu memiliki dua putra di sekolah menengah dan sekolah dasar, mulai melihat masalah ini sebagai orang tua dan ahli kepatuhan.
"Sebagai ayah, saya tidak bisa tidak memperhatikan," katanya.
"Saya mulai melihat kasus-kasus itu dari perspektif kepatuhan, dan saya pikir saat itulah saya mulai serius memikirkan konten berbahaya online."
Setelah tiga bulan perencanaan, Choi mulai mengembangkan DragonEyes pada Februari dan meluncurkannya enam bulan kemudian di seminar Majelis Nasional pada 25 Agustus.
>>> Wisatawan Asing Kini Lebih Pilih Gunung daripada Istana di Korea
DragonEyes menggunakan AI untuk mencari dan menganalisis konten yang berpotensi berbahaya, tetapi keputusan akhir tetap diserahkan kepada peninjau manusia.
Choi, yang belajar hukum daripada teknik, mengatakan struktur ini mencerminkan pandangannya tentang teknologi.