Sutradara Umay Shahab buka suara mengenai proses kreatif di balik film terbarunya, Memburu Pemangsa.
Ia mengungkapkan alasan di balik perubahan judul dari working title Siksa Sampai Mati menjadi Memburu Pemangsa.
Film yang mengangkat isu penculikan dan kekerasan terhadap anak ini mengikuti empat jurnalis yang mengusut kasus pembunuhan dan penculikan anak.
Mereka menemukan bahwa pelakunya adalah seorang pedofilia yang bekerja sama dengan iblis.
Umay menegaskan bahwa proses riset dilakukan secara mendalam bersama para ahli.
Ia berkomunikasi dengan kriminolog, psikolog anak, dan Komnas Anak untuk memastikan isu yang diangkat tidak menjadi gimmick horor belaka.
"Dalam mengangkat kasus ini pun juga kami pastinya sudah melakukan riset yang mendalam dengan kriminolog, dengan psikolog anak, dengan komnas anak, dan lain-lain," kata Umay kepada CNNIndonesia.
com, Senin (24/8).
Ia menambahkan, "Jadi kayak gimana caranya filmnya tidak hanya quote-on-quote orang berpikirnya menjual sensasi tentang bahwa ini horor dengan gimmick pedofilia gitu.
Padahal ya kita benar-benar 100 persen mengangkat kasus, mengangkat apa yang lagi marak terjadi."
Alasan Memilih Genre Horor
Umay menjelaskan bahwa genre horor dipilih karena dianggap cocok untuk menyampaikan cerita tentang predator anak.
Ia menilai pelaku kejahatan terhadap anak lebih rendah dari iblis, sehingga horor menjadi medium yang tepat.
"Kalau bagi aku pribadi, karena pemangsa anak atau pelaku kekerasan anak, atau specifically pelaku pedofilia itu lebih rendah daripada iblis, atau bahkan kalau di film ini kan pelaku pedofilia yang bekerja sama dengan iblis," tuturnya.
Selain itu, genre horor memiliki basis penonton besar di Indonesia. Umay menyebut horor adalah pilihan nomor satu masyarakat Indonesia, sehingga memudahkan pesan film tersampaikan.
Pemilihan empat jurnalis sebagai karakter utama juga tidak lepas dari peran media dalam menyebarkan informasi di era digital.
Menurut Umay, keadilan bagi korban seringkali bergantung pada viralitas.
"Karena aku merasa di era sekarang no viral, no justice," kata Umay. Namun, ia mengakui tantangan dalam menggambarkan profesi jurnalis karena banyak batasan etika yang harus dihormati.
"Jurnalis itu ya enggak boleh upload berita tanpa izin dari pemred [pemimpin redaksi], enggak boleh upload berita yang enggak kredibel, banyak lah gitu.
Jadi kayak kami harus bermain di batasan-batasan yang ada dan tetap beretika juga gitu," jelasnya.
Perubahan Judul Film
Proses kreatif tersebut akhirnya membawa Umay mengubah judul film dari Siksa Sampai Mati menjadi Memburu Pemangsa. Keputusan ini diambil setelah menonton film berkali-kali.
"Setelah kami nonton berkali-kali filmnya, kita ngerasa bahwa Memburu Pemangsa tuh jauh lebih cocok karena film ini kan punya misi yang positif sebenarnya," jelas Umay.
Ia khawatir judul lama terlalu sensasional dan dapat menutupi nilai positif yang ingin disampaikan.
"Kayak nanti takutnya si nilai positif yang berusaha kita hadirkan malah akan kalah sama judulnya," tambahnya.
Memburu Pemangsa bercerita tentang empat jurnalis perempuan yang melacak dan memburu predator anak di suatu kawasan.
Mereka memiliki kemampuan berbeda-beda, seperti sixth sense, muay thai, keahlian riset, dan keberanian.
Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Yasamin Jasem, dan Taskya Namya beradu peran dalam film ini.
Laura menggambarkan karakternya sebagai Agnes, seorang ibu yang baru kehilangan anak dan memiliki sixth sense.
Sementara Taskya berperan sebagai Brina yang ahli muay thai, Yasamin sebagai Anya yang menjadi otak riset, dan Prilly sebagai Cia yang pemberani dan berapi-api.
Memburu Pemangsa dijadwalkan tayang di bioskop pada 24 September.