unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Bahasa Mandarin Kini Jadi Tren di Vietnam, Pelajar Ikuti Peluang Kerja
News

Bahasa Mandarin Kini Jadi Tren di Vietnam, Pelajar Ikuti Peluang Kerja

Peserta tes bahasa Mandarin di Vietnam
Bahasa Mandarin Kini Jadi Tren di Vietnam, Pelajar Ikuti Peluang Kerja
A A Ukuran Teks16px

HANOI — "Bahasa Mandarin jelas sedang tren sekarang."

Ujar Vu Thi Thao, 23 tahun, usai menuntaskan ujian HSK Level 6 di pusat tes Hanoi University, Vietnam, Minggu (13/9).

Ia mengaku berhenti dari pekerjaannya di perusahaan kereta api China dan kini bersiap menjadi pengajar bahasa Mandarin.

Menurutnya, perusahaan China yang kian agresif masuk ke Vietnam membuka pasar besar bagi penutur bahasa Mandarin.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Vietnam, tetapi juga menyebar ke sejumlah negara Asia Tenggara.

Berbeda dari demam bahasa Korea yang dulu mengikuti gelombang Hallyu, bahasa Mandarin kini menjadi bahasa asing kunci untuk dunia kerja.

Pendorong utamanya adalah perusahaan China yang memindahkan basis produksi ke Asia Tenggara untuk menghindari pembatasan dagang Amerika Serikat.

Mereka menyerap banyak tenaga kerja yang menguasai bahasa Mandarin.

Lonjakan Peserta Tes dan Lowongan Kerja

Data Chinese Testing International mencatat Vietnam memimpin dunia dengan 146.000 peserta tes HSK tahun lalu.

Thailand menyusul dengan 130.000 peserta, Korea 60.000, sedangkan Jepang dan Indonesia masing-masing 30.000 peserta.

Pergeseran pasar kerja pun terlihat jelas dari data platform rekrutmen Vietnam, JobOKO.

Sepanjang tahun lalu ada 12.997 lowongan yang mencari penutur bahasa Mandarin, naik 49 persen dari 2024.

Jumlah itu jauh melampaui lowongan untuk penutur bahasa Jepang sebanyak 5.422 dan bahasa Korea hanya 2.388.

Penutur bahasa Mandarin dengan pengalaman satu hingga tiga tahun bahkan menerima gaji sekitar 50 persen lebih tinggi dari rata-rata posisi serupa.

Tren ini juga mengubah peta penerimaan universitas.

Di University of Languages and International Studies under Vietnam National University, Hanoi, nilai ambang batas program bahasa Inggris tahun ini 25,92 dari 30, disusul bahasa Mandarin 25,65, bahasa Korea 24,3, dan bahasa Jepang 23.

Sementara di Hanoi University, ambang batas bahasa Inggris 34,45 dari 40, bahasa Mandarin 34,20, dan bahasa Korea 32,14.

Bahasa Korea yang beberapa tahun lalu bersaing ketat dengan bahasa Inggris di puncak nilai penerimaan kini mulai tergeser.

Perubahan juga terasa di kawasan perbatasan China.

Media Vietnam Dantri pada Maret melaporkan pekerja di kawasan industri seperti Bac Ninh "berbondong-bondong ke akademi bahasa Mandarin sepulang kerja."

Menurut laporan itu, "hanya dengan sertifikat HSK Level 4 sudah bisa menjamin pekerjaan."

Hoang Quynh Nga, 24 tahun, pengajar bahasa Mandarin, mengatakan jumlah murid melonjak dibanding dua atau tiga tahun lalu.

Ia menyebut pekerja kantoran belajar bahasa Mandarin karena ingin perlakuan lebih baik di tempat kerja, sehingga motivasi mereka tinggi.

Dorongan China dan Kekhawatiran Perusahaan Korea

China juga gencar memperluas penggunaan bahasanya melalui Confucius Institute di Asia Tenggara.

Lembaga ini mendukung pendidikan bahasa, pelatihan guru, dan administrasi ujian HSK.

Selain itu, China mendirikan Luban Workshop, pusat pelatihan vokasi, terutama di negara mitra Belt and Road Initiative seperti Thailand, Laos, dan Indonesia.

Luban Workshop menyediakan paket pelatihan gratis yang menggabungkan penggunaan peralatan buatan China dengan pendidikan bahasa Mandarin.

Carnegie Endowment for International Peace, lembaga pemikir kebijakan luar negeri dan keamanan AS, mencatat Luban Workshop China telah meluas ke Asia Tengah, yakni Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan.

Lembaga itu menilai China menggunakan workshop untuk mengubah citranya dari "ancaman" menjadi "mitra."

Perusahaan Korea yang beroperasi di Vietnam pun mulai cemas.

"Muncul tren pelamar ke perusahaan Korea mencantumkan bahasa Mandarin sebagai keahlian khusus di resume," kata seorang eksekutif lokal di perusahaan Korea besar.

Ia menjelaskan perusahaan China awalnya menyerap pekerja terampil dengan tawaran gaji sedikit lebih tinggi dari perusahaan Korea.

Kini persaingan meluas dari pekerja produksi hingga karyawan kantor.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru