unique visitors counter
⌂ Beranda News PBB Soroti Dugaan Kejahatan Perang AS dalam Serangan ke Iran
News

PBB Soroti Dugaan Kejahatan Perang AS dalam Serangan ke Iran

Ilustrasi bangunan rusak akibat serangan udara di Iran
PBB Soroti Dugaan Kejahatan Perang AS dalam Serangan ke Iran
A A Ukuran Teks16px
IN ARTICLE 1

Serangan itu mengakibatkan hilangnya nyawa, cedera pada warga sipil, atau kerusakan pada objek sipil.

Departemen Luar Negeri AS tidak langsung menanggapi permintaan komentar dari Associated Press.

Dalam laporan mereka, para pakar menyimpulkan bangunan sekolah merupakan titik jatuh yang dimaksud.

Kerusakan yang timbul dinilai bukan akibat serangan menyimpang atau kerusakan sampingan dari serangan ke kompleks Garda Revolusi Iran di sebelah sekolah.

Pemerintahan Trump belum secara langsung menerima tanggung jawab atau merilis hasil investigasi Pentagon soal pemboman sekolah itu.

Tim bentukan PBB mendasarkan tuduhan pada dua serangan, salah satunya melibatkan misil Tomahawk yang menghantam sekolah yang dinilai teridentifikasi jelas.

Serangan lain memakai Precision Strike Missile yang menyebarkan pelet tungsten di kompleks olahraga dan kawasan permukiman yang juga teridentifikasi jelas di Kota Lamerd, Iran selatan, pada 28 Februari.

Tim bentukan PBB menyebut 22 pria dan perempuan sipil tewas, sementara Komando Pusat AS membantah bertanggung jawab atas serangan di Lamerd.

Tuduhan Kejahatan terhadap Kemanusiaan oleh Pemerintah Iran

Tim menemukan pembunuhan oleh aparat keamanan negara di Iran terjadi dalam skala yang mengejutkan.

Warga sipil menghadapi pelanggaran HAM berat dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan pemerintah mereka sendiri.

Aparat keamanan Iran disebut melakukan represi keras selama dua tahun terakhir dengan menembakkan senapan serbu ke arah kerumunan, memukuli pengunjuk rasa, dan menangkap tenaga kesehatan.

Para pakar menyebut tahanan menghadapi penyiksaan dan tidak mendapat pendampingan hukum, sehingga keluarga mereka tidak mengetahui keberadaan mereka.

Pemerintah Tehran juga meningkatkan penggunaan hukuman mati, dan lebih dari 70 orang, termasuk lima perempuan dan tiga anak laki-laki, berada dalam risiko eksekusi yang mengancam.

📰 Update Terbaru