Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) mencatat penjualan motor listrik sepanjang delapan bulan pertama 2026 baru mencapai sekitar 18.900 unit.
Angka itu turun sangat tajam dibandingkan capaian tahun-tahun sebelumnya, terutama karena belum jelasnya kepastian insentif dari pemerintah.
Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi menyampaikan laporan tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Pengembangan Ekosistem dan Daya Saing Industri Kendaraan Listrik Nasional secara daring pada Senin, 21 September 2026.
Fluktuasi Empat Tahun Terakhir
Data asosiasi menunjukkan realisasi distribusi unit mengalami fluktuasi besar selama empat tahun terakhir.
Budi menyebut pada 2023 penjualan hanya sekitar 15.000 unit karena pasar masih tergolong awal.
Setahun kemudian, penjualan melonjak menjadi sekitar 77.000 unit.
Kinerja pasar kendaraan roda dua bertenaga listrik itu sempat bertahan tanpa suntikan bantuan dana pemerintah pada tahun berikutnya.
Namun pada 2026 hingga Agustus, penjualan kembali merosot dan hanya menyentuh sekitar 18.900 unit.
Insentif dan Ekosistem Jadi Penghambat
Ketidakpastian regulasi mengenai bantuan finansial kendaraan listrik disinyalir menjadi penghambat utama pertumbuhan daya beli konsumen domestik.
Kondisi pasar yang mengambang membuat calon pembeli memilih menahan transaksi hingga ada pengumuman resmi terkait skema insentif terbaru.
Budi menilai kebijakan pemerintah yang kadang ada dan kadang tidak cukup mengganggu industri karena masyarakat banyak yang menunggu kapan subsidi akan diberikan.
Selain masalah insentif, keterbatasan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), kepastian jaringan bengkel resmi, serta jaminan ketersediaan suku cadang turut membayangi keputusan masyarakat.
Sektor pembiayaan juga menyumbang kendala operasional meski perbankan dan lembaga keuangan pada dasarnya menyatakan dukungan terhadap program elektrifikasi nasional.
Budi mengungkapkan bahwa pihaknya siap didukung dalam hal pendanaan, tetapi implementasinya hingga kini masih mengalami hambatan.
Di tengah berbagai hambatan pasar domestik, Indonesia memegang peranan strategis dalam struktur asosiasi industri sepeda motor listrik di kawasan Asia Tenggara.
Aismoli menilai industri dalam negeri berpotensi besar menembus pasar ekspor ke negara-negara tetangga di ASEAN apabila pembenahan infrastruktur, akses pendanaan, dan kepastian regulasi di tingkat lokal telah terselesaikan.
