Di sana ia mengerjakan pekerjaan seperti membersihkan, membantu unit medis, dan mengantar surat.
Ralph, tentara AS yang bertugas di Korea, jatuh cinta saat membantu Yoo-sun mencari keluarganya yang hilang.
Smith mengaku ibunya banyak bercerita tentang masa lalu.
Ia sering mendengar kisah bagaimana ibunya setiap pagi sebelum sekolah memohon kepada ibunya, "Buatkan nasi kepal yang besar."
Saat itu makanan langka dan orang-orang kelaparan. Ketika Smith berusia sekitar 6 tahun, ia melihat ibunya menangis tersedu-sedu dan bertanya mengapa.
Ibunya menjawab, "Karena aku merindukan nenekmu."
Smith baru mengetahui nama asli ibunya tak lama sebelum ibunya meninggal.
Ibunya mengaku bahwa karena tidak menemukan akta kelahiran saat perang, ia memakai dokumen perempuan lain untuk memenuhi syarat imigrasi.
Ibunya mungkin menyembunyikan hal itu seumur hidup karena takut putra dan dua putrinya kehilangan rasa hormat. Karena itu, keluarga tidak yakin akan tahun kelahiran aslinya.
Ibunya biasa meminta dipanggil dengan nama panggilan "U-so-ni".
Diskriminasi dan Kerinduan pada Korea
Smith mengenang diskriminasi yang dialami keluarga Asia di Amerika saat itu sangat luas. Ia samar-samar mengingat pria kulit putih mengabaikan ibunya.
Ibunya mengajarkan anak-anaknya beradaptasi dengan Amerika, sekaligus menanamkan kebanggaan menjadi orang Korea. Smith sangat menyukai mandu-guk pedas buatan ibunya.
Kerinduan Yoo-sun pada Korea dan keluarganya yang hilang terlihat kuat.
Ketika surat datang pada musim semi 1990 dari pamannya, Yang-sun, di Korea Utara, ibunya menangis hingga tak bisa berbicara.
Hal itu bisa terjadi karena ayahnya mendaftarkan informasi ibunya ke program pencarian keluarga terpisah di Kanada.
Tahun berikutnya, ibunya pergi ke Korea Utara untuk bertemu empat saudara yang masih hidup.